Header

Minggu, 15 April 2012

KAJIAN DESKRIPTIF SUMBER DAYA ALAM DI PULAU KALIMANTAN PENDAHULUAN

oleh:
imam arifa'illah syaiful huda & indah ashlachal ummah

Latar Belakang
Kalimantan adalah nama bagian wilayah Indonesia di Pulau Borneo Besar; yaitu pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan Seluruh Pulau Irian. Kalimantan meliputi 73 % massa daratan Borneo. Terdapat empat propinsi di Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, luas seluruhnya mencapai 549.032 km². Luasan ini merupakan 28 % seluruh daratan Indonesia. Kalimantan Timur saja merupakan 10% dari wilayah Indonesia. Bagian utara Pulau Borneo meliputi negara bagian Malaysia yaitu Serawak dan Sabah, dan Kesultanan Brunei Darusallam. Batasan wilayah secara politik yang ada sekarang ini mencerminkan kepentingan penjajah masa lampau.
Secara geografis pulau Kalimantan (Indonesia), terletak diantara 4°24` LU - 4°10` LS dan antara 108°30` BT - 119°00` BT dengan luas wilayah sekitar 535.834 km². Berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara yang panjang perbatasannya mencapai 3000 km mulai dari proinsi Kalimantan Barat sampai dengan Kalimantan Timur. Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39,69 %), daratan (35,08 %), dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11,73 %) dataran aluvial (12,47 %), dan lain-lain (0,93 %). Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi dengan kelerengan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang.
Pegunungan utama sebagai kesatuan ekologis tersebut adalah Pegunungan Muller, Schwaner, Pegunungan Iban dan Kapuas Hulu serta dibagian selatan Pegunungan Meratus. Para Ahli agronomi sepakat bahwa tanah-tanah di Kalimantan adalah tanah yang sangat miskin, sangat rentan dan sangat sukar dikembangkan untuk pertanian. Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut, lahan bertanah asam, berpasir, dan lahan yang memiliki kelerengan curam. Kalimantan dapat dikembangkan, tetapi hanya dalam batas-batas ekologis yang agak ketat dan dengan kewaspadaan tinggi.
Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat.
Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas, mangan, bauksit, pasir kwarsa, fosfat, mika dan batubara. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah, pantai, dan lepas pantai. Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit, kelapa, karet, tebu dan perkebunan tanaman pangan. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran, karena keterbatasan lahan di negara jiran tersebut. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai. Namun sekarang ini pengembangan perkebunan juga mengancam kawasan perbukitan dataran tinggi, namun diduga areal yang sebenarnya kurang cocok untuk perkebunan hanya sebagai dalih untuk melakukan eksploitasi kayu.

KONDISI FISIOGRAFIS KALIMANTAN

Kondisi Geologi Secara Umum
Indonesia bagian barat seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat serta Jawa Tengah tersusun oleh kerak benua, demikian pula dasar lautan di antara pulau- pulau ini yang dangkal. Di bawah kerak bumi adalah zona yang batuannya lebih panas dan bersifat lebih plastis. Lempeng benua dan lempeng samudera mengapung di atas bahan cair di bawahnya. Di Kalimantan terdapat empat unit geologi utama, yaitu batuan yang dihubungkan dengan pinggir lempeng, batuan dasar, batuan muda yang mengeras dan tidak mengeras, dan batuan aluvial serta endapan muda yang dangkal.
Kompleks batuan dasar di Kalimantan di bagian barat dan bagian tengah Kalimantan (termasuk pegunungan Schwaner) mewakili singkapan dasar benua terbesar di Indonesia. Batuan dasar adalah batuan di dasar lapisan stratigrafi yang umumnya lebih tua dari batuan di atasnya. Batuan ini biasanya mengalami metamorfosis jika terkena panas. Hasil metamorfosis batuan ini yang khas adalah batu pualam yang berasal dari batu kapur; batu sekis hijau yang berasal dari batuan vulkanik, batu gneis yang berasal dari batu pasir atau granit. Daerah batuan metamorfosis atau batuan dasar adalah jenis kerak benua yang sering dipengaruhi oleh batuan intrusi muda. Kompleks batuan dasar Kalimantan terdiri dari atas sekis dan gneis yang tercampur dengan granit dari Era Palaezoikum dan Periode Terseir membentuk daerah kristal yang sangat luas.
Batuan yang berasosiasi dengan pinggir lempeng Kalimantan mencakup Opiolit (kerak samudera) dan Melange. Potongan lantai samudera (kerak samudera) terdapat beberapa tempat didaratan Kalimantan. Potongan-potongan ini dicirikan oleh susunan batuan beku yang padat gelap tipe Basa dan Ultra Basa dengan komponen granit. Endapan batu kersik samudera dan karbonat mungkin juga terdapat deretan batuan ini disebut Opiolit. Sebagian pengganti jalur penunjaman, Opiolit-Opiolit ini terbentuk oleh tubrukan lempeng ketika kerak samudera terperangkap oleh gerakan tektonik lempeng dan tertekan ke pinggir lempeng yang berdekatan dan di sini Opiolit-Opiolit ini tetap terlindungi. Proses pencuatan ini sering disertai oleh rubuh dan retaknya batuan. Kompleks Opiolit di Pulau Laut dan Pegunungan Meratus terbentuk dengan cara ini.
Batuan Melange adalah batuan campuran potongan-potongan batu dari berbagai jenis dan ukuran yang berbeda dalam matrik berliat yang terpotong, yang menunjukkan adanya tekanan yang sangat kuat. Potongan-potongan ini ukurannya dapat sangat kecil (cm) dan dapat juga berukuran besar (ratusan meter atau lebih). Malange sering dikaitkan dengan proses pembentukan jalur penunjaman. Melange merupakan perpaduan antara bahan-bahan yang terkikis dari lempeng samudera yang bergerak turun dengan endapan yang berasal dari massa daratan atau lengkung vulkanik di dekatnya. Seluruh massa ini tergesek dan terpotong karena desakan ke bawah dari lempeng yang bergerak turun. Batuan yang terbentuk dengan cara ini berasosiasi dengan desakan keatas lempeng Opiolit yang besar di Pegunungan Meratus.
Daerah Melange yang luas di bagian tengah Kalimantan, yaitu yang terbentang di perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia, masih belum diketahui dengan baik. Daerah Melange ini merupakan zona batuan hancur, sering mengandung potongan-potongan Opiolit, tetapi luas dan umur geologinya (akhir mesozoikum sampai periode tersier yang lebih tua) sulit untuk dijelaskan dalamperistilahan lempeng tektonik sederhana (Williams dkk, 1989).
Sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus, batuan vulkanik dan endapan tersier. Kalimantan tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapi memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan. Hal-hal tersebut merupakan peninggalan sejarah geologis Indonesia yang mencakup berbagai masa kegiatan vulkanik dari 300 juta tahun yang lalu sampai sekarang. Batuan vulkanik terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, di bawah permukaan bumi terbentuk batuan intrusi seperti granodiorit. Ditempat batuan vulkanik tua Kalimantan yang telah terkikis, intrusi yang mengandung cadangan emas, semula di bawah gunung api merupakan bagian penting dari proses utama pembentukan mineral seperti emas.
Suatu kawasan yang luas di bagian tengah, timur dan selatan Kalimantan tersusun dari batuan endapan seperti batu pasir dan batu sabak. Selain formasi yang lebih tua di Kalimantan Barat, kebanyakan formasi sedimen relatif muda dan mencakup batu bara dan batuan yang mengandung minyak bumi. Bagian selatan Kalimantan terutama tersusun dari pasir keras yang renggang dan teras kerikil yang sering dilapisi oleh timbunan gambut muda yang dangkal dan kipas aluvial yang tertimbun karena luapan sungai. Setidaknya di Kalimantan terdapat 205 formasi batuan. Formasi batuan di Kalimantan, terdapat banyak patahan di Kalimantan Timur dan Barat, sedikit di Kalimantan Selatan dan sangat sedikit di Kalimantan Barat. Sebaran patahan yang paling sedikit berada di bagian selatan sampai barat dari Pulau Kalimantan.

Geologi Kalimantan Timur
Kalimantan Timut membentuk sebagian arah pokok Kepulauan Filipina. Rangkaian Pulau Palawan berakhir pada Pegunungan Kinibalu dan rangakaian Pulau Sulu terakhir di daerah Teluk Darvel. Pegunungan Kinibalu yang membujur arah timur laut barat daya terdiri dari lapisan Pra-tertier yang terlipat tinggi dan lapisan Tertier yang terlipat lebih rendah, yang terganggu oleh granodiorit dari massa batuan massif Kinibalu. Pegunungan di sebelah utara Teluk Darvel yang membujur arah timur barat juga tersusun dari batuan Pretertier dan Tertier bawah. Lapisan Tertier yang lebih muda yang kurang terlipat terdapat pada sisi rangkaian ini serta pada basin di antaranya yang meluas ke arah barat palung Sulu. Kalimantan Utara yang komplek ini mempunyai hubungan geologis dengan kepulauan Filipina, yang dipisahkan oleh massa Neogen yang membentang melintasi pulau itu dari Basin Sulawesi di bagian timur sampai teluk Labuhan di pantai barat laut. Hal ini dapat ditunjukkan oleh adanya kesamaan batuan yang ditemukan pada Pulau kalimantan dan Kepulauan di Filipina.
Bagian yang bersifat Sunda di Kalimantan terdiri atas teras kontinen berbentuk segitiga (baji) di Kalimantan barat daya yang dibatasi oleh Basin Tertier bagian selatan dan timur Kalimantan pada sisi lain. Hanya bagian barat Kalimantan berupa segitiga yang dibentuk oleh Pegunungan Muller Ujung Datuk Ujung Sambar yang sebenarnya merupakan massa kontinen. Bagian itu pada sisi timurnya terdiri atas Basin Melawi dengan fasies air payau Tertier Bawah. Menurut Fen (1933),hanya Kalimantan Barat daya yang boleh disebut daratan tua (Alte Rumpfebene).
Teras kontinen ini membentuk bagian massa daratan Sunda tua. Batas utaranya dibentuk oleh kelompok pegunungan yang membentang dari Ujung Datuk melalui gunung Niut dan Plato Madi ke arah Pegunungan Muller. Tepi selatan dibentuk oleh Pegunungan Schwaner dan pegunungan rendah yang membentang ke pantai selatan. Kedua jalur batuan selanjutnya ditandai dengan intrusi Volkanis dan ekstrusi Tertier. Jalur volkan Tertier ini bertemu di Pegunungan Muller dan selanjutnya membentang ke arah timur laut melalui Batuayan (1652 m) ke Kongkemal (2053 m) dan berakhir pada Pegunungan Datong yang rendah di sebelah barat Tarakan. Di dekat ujung utara massa kontinen Kalimantan Barat, jalur Basalt Kuarter terdapat di sekeliling Gunung Niut yang tua dan sepanjang ujung barat daya terdapat beberapa volkan Kuarter yang telah padam, seperti Murai, Seluh, dan Bawang Aso. Dari Kongkemal sebuah pegunungan yang kompleks bercabang ke arah timur menuju Niapa (1275m) dan dari tempat tersebut basement kompleks merosot dengan teratur da bawah lapisan Tertier semenanjung Mangkaliat.
Masa tanah Sunda itu menyusup ke Kalimantan seperti sebuh baji besar yang lebar dasarnya 600 km, sepanjang pantai barat daya antara Ujung Datuk dan Ujung Sambar, membentang ke timur laut sampai pulau itu, serta berangsur- angsur menyempit. Bagian timur laut Pegunungan Schwaner mulai merosot di bawah lapisan marin Tertier, tetapi kemudian dapat diikuti lebih jauh ke arah timur laut sampai Kongkemal, kemudian meruncing keluar ke pegunungan Latong di Kalimantan timur laut. Baji batuan PreTertier ini membentuk kerangka struktural Kalimantan Sunda.
Di sebelah barat lautnya terdapat pegunungan besar setinggi 1000-2000 m yang cekung ke arah barat laut dan terdiri dari Pegunungan Kapuas Hulu dan Iran. Rangkaian pegunungan ini tersusun dari batuan marin PreTertier dan Tertier Bawah yang terlipat secara intensif serta menekan ke arah barat laut.rangkaian tersebut dipisahkan oleh Lembah Rejang, dari sebuah punggungan (Igir Ularbulu) yang tingginya berangsur angsur berkurang dari 1000 m, yang juga cekung ke arah barat laut. Pegunungan ini merupakan antiklinorium yang sebagian besar terdiri dari lapisan Tertier, dipisahkan dari pantai Serawak dan Brunei oleh jalur agak sempit dari tanah pegunungan rendah. Pegunungan Kapuas Hulu Iran dan Punggungan Ularbulu merupakan rangkaian pegunungan Tertier yang termasuk kedalam Sistem Pegunungan Sunda. Di sebelah tenggara dan timur kerangka struktural Kalimantan, basement kompleks Pretertier menghilang di bawah basin bagian selatan dan timur dan di tempat itu terjadi pengendapan ribuan meter sidimen Tertier.
Basement complex itu muncul lagi ke arah pantai timur, merosot membentuk palung di Selat Makasar dan muncul lagi sebagai Pulau Laut dan Sebukku di luar sudut tenggara Kalimantan. Pada bagian tepi ini basin Tertier Kalimantan tenggara dan timur berupa pegunungan membujur barat daya timur laut. Pegunungan tersebut berawal di Meratus di bagian selatan, terdiri dari batuan Pretertier dan berhubungan dengan antiklinorium Samarinda. Dari antiklinorium Samainda, pada bagian yang terpotong oleh Sungai Anteseden Mahakam, sumbu itu muncul lagi ke arah utara ke ambang melintang yang dibentuk oleh Sistem Kongkemal Niapa Mangkaliat.
Rangkaian Pegunungan Meratus Samarinda merupakan hasil orogenesis Tertier pada sisi tenggara kerangka struktural kalimantan. Orogenesis itu membentuk bagian yang berlawanan dari rangkaian pegunungan Tertier Serawak pada sisi barat lautnya.

Geologi Kalimantan Tengah
Runtunan stratigrafi daerah Sampit tersaji pada Gambar 3. Satuan batuan paling tua yang merupa¬kan batuan dasar runtunan batuan sedimen Tersier, adalah batuan malihan yang terdiri atas filit, genes, sekis, dan kuarsit yang dikenal sebagai batuan tak terurai (Nila drr., 1995). Satuan batuan ini, yang menyebar ke arah utara hingga sekitar daerah Gu¬nung Mas, tersingkap berupa jendela yang muncul di tebing sungai dan ditindih langsung oleh Formasi Warukin dan Formasi Dahor. Singkapan yang agak luas dijumpai di Sungai Sampit Kiri, selatan cabang Sungai Kuayan, dan Hulu Sungai Rungan Kiri (Gambar 4). Di daerah penelitian, satuan batuan malihan ini berfoliasi dengan arah barat daya – timur laut. Umur batuan malihan ini diperkirakan Permo-Trias, (Nila drr., 1995).
Satuan batuan tak terurai di daerah ini bersentuh-an secara tektonis/diterobos oleh batuan granitan yang merupakan tubuh batolit berumur Kapur Akhir (76 + 8,7 juta tahun lalu) dan terdiri atas granit, diorit, granodiorit, dan tonalit sampai monzonit (Gambar 3). Sebaran batuan ini sangat luas ke arah utara, sedangkan di bagian selatan tersingkap di daerah Bukit Batu timur Sungai Katingan, wilayah Kasongan; Sungai Mentaya Hulu; Desa Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu wilayah Palangka Raya dan di hulu sungai Sebangan dan Sungai Bakung di sebelah barat daya Palangka Raya. Satuan batuan ini yang merupakan batuan dasar untuk wilayah penelitian yang dinamakan Tonalit Sepauk. (Amiruddin, 1989).


Secara tak selaras di atas satuan batuan granit-an diendapkan Formasi Tanjung yang terdiri atas batupasir kuarsa berselingan dengan batulempung dengan sisipan batubara, diduga berumur Eosen, dan diendapkan dalam lingkungan paralik-neritik (Nila drr., 1995). Formasi Tanjung ini di daerah penelitian mencapai tebal 30 m, dan tersingkap hanya berupa jendela di sepanjang tebing Sungai Kuayan Hulu dan Sungai Mentaya (Gambar 4). Secara selaras di atas Formasi Tanjung dijumpai Formasi Berai, yang dikuasai oleh batugamping berwarna putih kelabu, berlapis baik dengan tebal 20 sampai 200 cm; setempat kaya akan koral, foraminifera, dan ganggang; bersisipan napal kelabu muda, padat dan berlapis baik (10-15 cm), serta batulempung berwarna kelabu, setempat terserpihkan dengan ketebalan 25–75 cm. Kumpulan foraminifera besar yang terdapat dalam batugamping (Aziz, 1982) mengindikasikan umur Oligosen Akhir – Miosen Tengah (Te-Tf) dengan lingkungan pengendapan neritik. Di daerah penelitian, satuan batugamping ini tersingkap baik di Sungai Mentaya yang menindih Formasi Tanjung (Gambar 4) dengan ketebalan mencapai 20 m. Secara selaras Formasi Berai ditindih oleh Formasi Warukin.
Secara umum Formasi Warukin disusun oleh batupasir kuarsa, batulempung, batulanau, dan konglomerat di bagian bawahnya; serta sisipan batubara dan lensa batugamping. Singkapannya dijumpai pada perpotongan Sungai Kuayan, Sungai Mentaya, Sungai Katingan, Mungkubaru, dan Gaung Baru (Gambar 4). Formasi ini yang menunjukkan kisaran umur Miosen Awal - Tengah, diduga merupakan endapan transisi darat (fluviatil) - laut dangkal (Heryanto & Sanyoto, 1994; Margono drr., 1997).
Formasi Warukin ditindih secara tak selaras oleh Formasi Dahor yang terdiri atas batupasir kuarsa dan konglomerat yang mengandung kepingan kuarsit dan basal, berselingan dengan batupasir berbutir sedang - sangat kasar, setempat berstruktur silang-siur, sisip-an batulempung setempat karbonan hingga gambut dan batulempung. Di daerah penelitian Formasi Dahor ini dikuasai oleh batupasir kuarsa berbutir halus hingga setempat sangat kasar dan konglomeratan. Sisipan batulempung dijumpai berupa lapisan dengan ketebalan hingga 7 m dan memperlihatkan warna abu-abu gelap hingga terang dan ada pula yang berwarna putih bersih hingga kekuningan. Setempat batulempung ini bersifat lanauan hingga lanau lempungan; ada pula yang mengandung bahan organik dan getah (resin) berukuran sekitar 1 cm. Sisipan batupasir karbonan yang hadir berwarna hitam, ketebalan mencapai 50 cm, umumnya lebih padat dan keras. Ketebalan formasi ini ada yang mencapai 500 m, berumur Pliosen – Plistosen (Margono drr., 1997) dan berlingkungan fluviatil (Heryanto drr., 1998).



Geologi Kalimantan Barat
Geologi regional daerah kajian disajikan berdasarkan Peta Geologi Lembar Sambas dan Siluas, Kalimantan skala 1 : 250.000 (Rusmana dan Pieters, 1993) (Gambar 2). Penyebaran batuan secara regional diperlukan untuk mendapatkan gambaran mengenai batuan sumber (source) dan batuan sekunder yang mengandung emas dan perak. Batuan sumber adalah Formasi Seminis (Pz s) yang diterobos oleh Batuan Terobosan Sintang (Toms) dan Batuan Gunung Api Sekadau (TRusk) sebagai pembawa larutan sulfida yang membentuk sistem hidrotermal. Sementara itu satuan sekunder yang mengandung emas dan perak adalah endapan aluvium rawa (Qa). Pada Formasi Seminis dan aluvium rawa saat ini terdapat kegiatan penambangan emas dan perak (Rusmana dan Pieters, 1993). Secara umum, daerah tinjauan ditempati oleh dataran aluvium berawa sistem Sungai Paloh dan Sambas yang bersatu di dataran pantai bagian barat. Di sebelah timur daerah tinjauan, batuan sedimen dan batuan malihan Mesozoik umumnya membentuk perbukitan rendah, bergelombang, dan perbukitan terisolir yang dibentuk oleh intrusi batuan beku yang berumur Trias sampai Tersier. Penyebaran aluvium dan batupasir membentuk topografi kasar dengan gawir dan kemiringan lereng yang terjal, sehingga sulit dibedakan dengan konstruksi bentang alam batuan Gunung Api Niut di Kalimantan Barat yang terdapat di bagian selatan daerah tinjauan.
Berdasarkan Rusmana dan Pieters (1993), tataan stratigrafi daerah tinjauan dibagi menjadi tujuh satuan dari tua ke muda. Batuan tertua di daerah tinjauan adalah Formasi Seminis (PzTRs) berumur Perem Akhir - Trias Awal, terdiri atas batusabak, filit, dan batupasir malihan. Formasi Seminis diterobos oleh Batuan Gunung api Sekadau (PzTRs) dan Batuan Terobosan Sintang (Toms). Batuan Gunung Api Sekadau (PzTRs) berumur Trias, terdiri atas basal, dolerit, andesit, tuf, breksi, dan aglomerat; sedangkan Batuan Terobosan Sintang (Toms) yang berumur Oligosen Akhir - Miosen Awal berupa diorit, dasit, andesit, dan granodiorit. Formasi Seminis ditindih oleh Kelompok Bengkayang (TRJb) berumur Trias Akhir - Jura Awal, yang tersusun oleh batupasir, batulumpur, batulanau, konglomerat, serpih, batupasir tufan, dan tuf biasanya karbonan. Di atas Kelompok Bengkayang terdapat Kelompok Serabang (JKls) yang berumur Jura Tengah - Kapur Tengah, dan terdiri atas batuan ultramafik, gabro, basal malihan, rijang, dan sepilit yang berassosiasi seperti batuan bancuh dengan batusabak, filit, sekis, batupasir malihan, dan batutanduk. Kelompok Serabang ditindih oleh Formasi Pedawan (Kp) dan Batupasir Kayan (TKk). Formasi Pedawan berumur Kapur Tengah - Atas, terdiri atas serpih, batupasir, batulumpur karbonan, dan sedikit sisipan batugamping. Sementara itu Batupasir Kayan yang berumur Paleosen - Oligosen, merupakan batupasir kuarsa, serpih, batulanau, dan sisipan konglomerat, setempat terdapat kayu terkersikan dan batubara.
Selanjutnya secara setempat terdapat intrusi Granit Pueh (Kup) berumur Kapur Akhir, tersusun oleh granit dan adamelit. Batuan terobosan lainnya adalah Batuan Terobosan Sintang (Toms) berumur Oligosen - Miosen, yang berupa diorit, dasit, andesit, dan granodiorit. Batuan gunung api adalah batuan Gunung Api Niut berumur Pliosen, terdiri atas basal, andesit, dan piroksen.
Secara umum, daerah tinjauan tertutup oleh endapan aluvium (Qa) yang tersusun oleh lumpur, pasir, kerikil dan sisa tumbuhan, kecuali di daerah pantai terdapat Endapan Litoral (Qc). Endapan litoral tersebar sepanjang pantai daerah tinjauan dengan lebar bentangan berkisar antara 1,5 km - 9 km, terdiri atas lumpur, pasir, kerakal, setempat gampingan, dan bahan tumbuhan.


Struktur kelurusan yang berkembang di daerah tinjauan adalah struktur rekahan dan retakan yang pada beberapa tempat berkembang menjadi struktur liniasi dan sesar. Struktur kelurusan tersebut berarah barat laut - tenggara. Secara umum, struktur tersebut muncul akibat adanya penerobosan oleh batuan terobosan dan gunung api. Akibat penerobosan tersebut terjadi deformasi terutama pada batuan Formasi Seminis yang kemudian dikenal sebagai batuan sumber emas dan perak (Rusmana dan Pieters, 1993). Deformasi tersebut diikuti oleh pengisian larutan hidrotermal yang kaya akan sulfida, sehingga batuan Formasi Seminis saat ini menjadi lokasi penambangan emas. Daerah kegiatan penambangan emas terdapat di sekitar aliran Sungai Sambas Kecil pada batuan aluvium. Keterdapatan emas letakan berasal dari batuan sumber (primer) Formasi Seminis, yang kemudian mengalami transportasi melalui aliran sungai (DAS Sambas Besar).

Geologi Kalimantan Selatan
Jenis tanah fluvents penting di dataran banjir di tepi sungai atau danau di Kalimantan. Tanah-tanah ini umumnya terdapat di sungai-sungai yang mengangkut endapan yang rawan terhadap banjir dan perubahan aliran sungai. Kandungan mineral dan kesuburan tanah trofofluvents di Kalimantan tergantung pada formasi geologi di daerah aliran sungai bagian hulu dan topografi daerah sekitarnya. Dua lingkungan utama yang bertanah aluvial adalah muara sungai dan rawa-rawa belakangnya. Tanah-tanah aluvial baru yang berasosiasi dengan air tawar di Kalimantan sebagian besar mendukung hutan-hutan rawa air tawar. Tanah aluvial yang lebih baru ini umumnya lebih subur dari pada lereng-lereng sekitarnya, tetapi tidak sesubur tanah aluvial laut atau abu vulkanik (Burnham 1984). Tanah-tanah aluvial di dataran tepi sungai di Kalimantan adalah tanah-tanah yang paling subur dan merupakan habitat yang mudah dikelola. Kebalikan dari tanah yang subur ini adalah tanah psamments, merupakan tanah muda yang mencolok, umumnya terdapat pada pantai-pantai muda maupun pantai tua. Tingkat kesuburan jenis tanah ini sangat rendah. Jenis tanah psmaments yang luas terdapat di bagian tengah Kalimantan.
Kapasitas umum menyimpan zat-zat hara pada tanah-tanah Kalimantan sebagian besar bergantung pada kandungan humus. Oleh karena itu kandungan zat hara yang sangat rendah bila lapisan humusnya rendah, misalnya pada tanah-tanah pasir kerangas. Di dalam tanah yang dalamnya satu meter, hampir setengahnya dari Basa yang diserap hanya terdapat dalam lapisan atas sedalam 25 cm (Nye dan Greeland 1960). Hal ini menjelaskan tingkat kesuburan yang sangat rendah pada ladang-ladang, karena pembakaran vegetasi penutup dan erosi lapisan tanah atas menyebabkan lapisan yang paling subur hilang. Untuk penggunaan tanah lahan pertanian yang berkelanjutan, banyak tanah-tanah di Kalimantan memerlukan tindakan-tindakan konservasi terutama untuk lapisan tanah atas dan pengendalian erosi, penggunaan pupuk yang seimbang serta pengelolaan yang baik.

KONDISI GEOMORFOLOGIS SECARA UMUM
Stratigrafi
Secara litostratigrafis, daerah penyelidikan menurut jenis dan umur batuannya dapat dikelom-pokkan menjadi tiga satuan, yakni Endapan Aluvium Kuarter, Batuan Sedimen Tersier, serta Batuan Beku dan Malihan Pratersier. Masing-masing satuan batuan tersebut yang tersaji dalam Gambar 4 (Rusmana dan Pieters, 1993), dari muda hingga tua dapat diuraikan seperti berikut: Endapan aluvium yang terdiri atas aluvium pantai, sungai, dan rawa berupa lumpur, pasir, kerikil, dan sisa tumbuhan. Batupasir Kayan tersusun oleh batupasir kuarsa, serpih, batulanau, dan sisipan konglomerat berumur Tersier. Batuan Gunung Api Niut yang terdiri atas basal dan andesit piroksen berumur Tersier. Batuan terobosan yang terdiri atas diorit, dasit, andesit, dan granodiorit berumur Tersier. Granit Puch yang berupa granit dan andamelit berumur Kapur. Formasi Pedawan yang berumur Kapur tersusun oleh serpih, batupasir, batulumpur karbonatan, sedikit sisipan batugamping, dan malihan. Batugamping Bau berumur Jura berupa batugamping berlapis. Kompleks Serabang yang berumur Jura dan telah mengalami pensesaran terdiri atas batuan ultramafik, gabro, basal malih, rijang spillit dan berasosiasi seperti bancuh dengan batusabak, filit, sekis, batupasir malih, dan batu-tanduk. Kelompok Bengkayang, yang juga berumur Jura, terdiri atas batupasir, batulempung, batulanau, konglomerat, serpih, batupasir tufan, tuf, dan granodiorit. Batuan Gunung Api Sekadau berupa basal, dolerit, andesit, tuf, breksi, dan aglomerat, berumur Trias. Formasi Seminis terdiri atas batusabak, filit, dan batupasir malih.

Sebaran Sedimen Permukaan Dasar Laut
Dari hasil analisis besar butir (Folk, 1980), diperoleh persentase kandungan butiran (Tabel 1) sebagai dasar dalam penyusunan peta penyebaran sedimen dasar laut. Secara umum, hasil analisis besar butir menunjukkan dominasi lanau dengan ukuran butir rata-rata lanau 98,0175%, pasir 4,4275%, dan lempung 4,9725% tanpa kerikil, sedangkan di sekitar garis pantai seluruh butiran berukuran pasir.
Dari hasil analisis besar butir tersebut di atas diperoleh empat satuan tekstur sedimen, yaitu: lanau, lanau pasiran, pasir lanauan, dan pasir (Gambar 3). Satuan lanau memiliki sebaran yang paling luas dibandingkan tiga satuan lainnya dan mendominasi daerah kajian dengan total luas sebaran 127,2 km2 atau 89,92% dari seluruh wilayah penelitian. Pola sebaran jenis satuan endapan lanau ke arah laut membentang dari batas paling utara sampai batas paling selatan daerah dan hanya sedikit diselingi oleh satuan lain di sebelah utara muara Sungai Sambas Besar.
Satuan lanau pasiran memiliki penyebaran dengan luas 12,65 km2 atau sekitar 8,94% dari total luas daerah. Penyebarannya di daerah lepas pantai bagian barat Parit Panjang atau di sebelah barat laut muara Sungai Sambas Besar. Pola penyebaran satuan lanau pasiran mengikuti pola kedalaman laut yang memanjang ke arah utara.
Satuan pasir mempunyai sebaran sekitar 1,176 km2 atau sekitar 0,83% dari luas total daerah. Satuan pasir yang terdapat sepanjang pantai bagian utara muara Sungai Sambas Besar, pola penyebarannya mengikuti pola garis pantai, dan diduga dipengaruhi secara langsung oleh arus sejajar pantai (longshore current) dari arah selatan ke utara (Wyrtki, 1961).
Satuan pasir lanauan merupakan satuan endapan yang memiliki sebaran yang paling kecil yaitu hanya 0,44 km2 atau sekitar 0,31% dari total luas daerah. Pasir lanauan memiliki penyebaran hanya setempat di sebelah barat Parit Panjang atau ke arah barat laut muara Sungai Sambas Besar yang berjarak sekitar 2 km dari garis pantai. Satuan pasir lanauan termasuk kategori agregat karena memiliki kandungan pasir lebih dari 50%, sehingga cukup baik sebagai bahan dasar konstruksi dan bahan urugan (Casagrande, 1948). Pola sebarannya memanjang di pantai sebelah utara muara Sungai Sambas Besar sepanjang lebih kurang 5,86 km dan sebaran ke arah laut sekitar 360 m dari garis pantai. Pada saat air laut surut, satuan pasir lanauan ini membentuk dataran pasang surut yang luas. Satuan endapan ini juga menyatu dengan jenis pantai yang berpasir dan merupakan agregat utama yang dijumpai di daerah kajian.
Secara umum, butiran lanau - pasir yang dijumpai memiliki karakteristik fisik berwarna putih sampai abu-abu kehitaman yang merupakan hasil pelapukan batuan intrusi yang ada di daratan Kalimantan, yakni granit, diorit, granodiorit, andesit, dasit, dan gabro.
Kalimantan memiliki pulau yang datar, dikarenakan mempunyai pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama disebelah selatan dan barat. Lebih dari setengah pulau ini berada di ketinggian di bawah 150 m dpl dan air pasang dapat mencapai 100 km ke arah pedalaman. Kalimantantidak memiliki pegunungan berapi namun jajaran pegunungan utamanya semula merupakan gunung berapi. Rangkaian pegunungan utamanya melintasi bagian tengah pulau seperti trisula terbalik dari utara ke selatan dengan tiga mata tombak bercabang di bagian selatan. Gunung Kinibalu di Kalimantan yang tingginya 4.101 m dpl, merupakan puncak tertinggi di Asia tenggara dan merupakan gunung tertinggi diantara pegunungan Himalaya dan puncak Jayawijaya yang tertutup salju di Irian Jaya. Puncak gunung lain di Kalimantan yang mencapai2.000 m hanya beberapa saja. Gunung Kinibalu terdiri atas sumbat batu granit yang terangkat oleh tekanan vulkanik dan masih terus bertambah tinggi.
Pengunungan Iran (Iban) antara Kalimantan Timur dan Malaysia Timur menjulang sampai 2.160 m di Gunung Harun (Harden), dekat perbatasan dengan Sabah. Ujung bagian barat rangkaian pegunungan Iran tengah membentuk jajaran Kapuas Hulu di sepanjang perbatasan Serawak dengan Kalimantan Barat. Menjulang di Gunung Lawit (1.767 m) dan Gunung Cemaru (1.681 m). Dari pegunungan tengah sekitar Gunung Cemaru, Pegunungan Muller (puncak tertingginya Gunung Liangpran (2.240 m) dan Pegunungan Schwaner (Bukit Raya 2.278 m) melintang kebarat daya di sepanjang perbatasan Kalimantan Tengah dan Barat. Kearah tenggara melintang pengunungan Meratusyang rendah (puncak tertingginya G. Besar 1.892 m), memisahkan Kalimantan Selatan dan timur dan memanjang ke arah selatan sepanjang pesisir. Seluruh rangkaian pegunungan ini merupakan pegunungan sekunder dengan ketinggian rata-rata 1.000 1.500 dan dengan puncak kadang-kadang hanya mencapai 2.000. Gunung Makita (2.987 m) yang berada dekat Longnawan dan Gunung Giho (2.550 m) di dekat Longsaan, keduanya berada di perbatasan dengan Serawak merupakan puncak tertinggi Borneo yang berada di Kalimantan, diikuti dengan Gunung Mantam (2.467 m) di sebelah barat Tanjung Redep, KalimantanTimur.
Kalimantan dilalui oleh sungai-sungai besar yang mengalir dari bagian tengah pulau ke pesisir. Kalimantan memiliki tiga sungai terpanjang yang menjadi kebanggaan Indonesia. Sungai Kapuas (1.143 km), Sungai Barito (900 km) dan Sungai Mahakam (775 m). Sungai Kapuas mengalir dari kaki GunungCemaru ke barat, mengaliri sebagian besar Kalimantan Barat. Sungai Barito yang besar mata airnya berasal dari pegunungan Muller dan mengalir ke selatan dan bertemu dengan Sungai Negara yang berasal dari Pegunungan Meratus bermuara dekat Banjarmasin. Sungai Kahayan yang kecil tetapi memiliki sejarah yang penting juga mengaliri pesisir selatan. Sungai Kahayan dan Sungai Mahakam mengalir dari pegunungan di pedalaman ke pesisir timur. Sejumlah sistem sungai yang berukuran besar mempunyai anak-anak sungai yang sangat luas di daerah alirannya di pedalaman dam pantai-pantainya di dataran rendah. Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Negara, Sungai Kapuas dan Sungai Baram (serawak) semuanya mempunyai danau tapal kuda dan anak sungai musiman pada dataran banjir. Di bagian selatan, anak sungai Bayan mengalir ke Seruyan.
Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan atau sesar dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan Gunung Benturan, serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat, selatan dan timur.Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini. Bahaya lingkungan ini harus menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan dalam pengaturan ruang wilayah.
Pola pegunungan di Kalimantan sangat berbeda dengan Pulau Sumatera dan Jawa. Selain itu kebanyakan pegunungan tersebut (selain di Kalimantan Utara pada perbatasan Indonesia dan Malaysia Timur) merupakan pegunungan tua (dari zaman Mesozoikum); karena telah mengalami denudasi berat. Puncak pegunungan di Kalimantan rendah, dan bentuknya tumpul. Keadaan ini menyebabkan sungai sungai di Kalimantan tidak begitu deras alirannya (gradien tingginya kecil), sehingga sangat baik untuk pelayaran. Hal ini membantu bagi sistem lalu lintas di daratan bagi daerah tersebut. Berbeda dengan pulau pulau lain, Kalimantan tidak mempunyai gunung api aktif, kecuali pegunungan Apokayam pada perbatasan dengan Malaysia Timur. Oleh karena itu peremajaan tanah oleh bahan vulkanik tidak terjadi. Hal ini tampak bila tanah di Kalimantan mulai di buka (digarap) tanahnya tidak subur (kecuali diberi pupuk dan dijaga humusnya).
Pegunungan di Kalimantan berpusat di tengah tengah pulau. Gunung yang tertinggi di alimantan adalah Kongkemul (2053 m), yang lebih tinggi di Kalimantan Utara (Malaysia Timur) seperti Gunung Kinibalu (4175 m), Limbakauh (2300 m), Murud (2260 m) dan Gunung Mulu (3000 m). Batas antara Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur dan Pegunungan Kapuas Hulu dengan Pegunungan Muller terbentang dataran rendah Kapuas yang semakin meluas ke arah pantai. Di antara Pegunungan Muller dan Schwaner dengan Pegunungan Meratusterbentang dataran rendah sungai sungai yang mengalir ke selatan. Akhirnya di sebelah Timur terdapat dataran rendah Sungai Mahakam. Kondisi fisik dasar alam kalimantan sebagian beasr berupa daerah pengununganatau perbukitan (39,69%), daratan (35,08%), dan sisanya dataran pantai atau pasang surut (11,37%), dataran alluvial (12,47%) dan lain-lain (0,39%).

Pulau Kalimantan terbagi menjadi 4 zone yang masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan masing-masing karakteristik zone.
Zone I Kalimantan Selatan
• Terdiri dari daratan alluvial, daratan banjir, tanggul alam, dan back swamp.
• Karakteristik: Pada waktu pasang, air sungai tertekan sehingga terjadi genangan. Dataran yang semula berupa basin diendapi oleh maretial endapan dari pegunungan di sebelah utaranya. Kalimanta selatan banyak terdapat lapisan gambut yang sangat tebal sehingga daerahnya sulit dikembangkan paling cocok hanya dipaiak sebagai persawahan pasang surut.
Zona II Kalimantan Barat
Berupa pegunungan geantiklinyang batuannya terdiri dari batuan yang berumur Permocarbon. Menurut Van Bemmelen, batuan ini adalah batuan yang berumur tua di Indonesia. Batuan ini meluan hingga ke kepulauan Andalan dan sebagian dari zone ini pada zaman es mengalami genangan oleh air laut. Di lembah-lembah sungai zone ini sebagian besar terdiri dari hasil pelapukan granit yang berupa feldspar dan kuarsa. Beberapa puluh sentimeter (cm) di baeah permukaan laut, materialnya pasir kuarsa. Zone ini disebut sebagai peguningan masif yang terdapat di daerah tertutup ataupu tertentu saja (lokal).
Zone III Kalimantan Tengah
• Merupakan geantiklin yang di beberapa tempat menunjukkan aktivitas vulkanis yang tidak aktif lagi, misalnya Pegunungan Iran.
• Dahulu sungai Kapuas pada zone ini terdapat endapan yang cukup tua dan disebut formasi danau.
Zone IV Kalimantan Timur
Terdiri dari pegunungan antiklinal Samamuda dan geantiklin Meratus. Di depresi Mahakam merupakan delta yang cukup perkembangannya, sebab material dan daerahnya merupakan dangkalan dari terusan Selat Sunda dimana basementnya stabil dan muatan sedimen yang diendapkan di beberapa tempat menyebabkan delta berkembang baik karena dukungan dari lairan air yang lambat.
Deretan pegunungan yang menyusun kerangka morfologi Kalimantan, yaitu:
• Sistem pegunungan yang memanjang dari pegunungan Kanibalu (4175m) melalui pegunungan Iran dan Muller ke arah pegunungan Schwaner di bagian barat daya. Sistem pegunungan ini menyusun bagian poko pulau ini, yang merupaka pangkal percabangan ke arah timur barat. Adapun cabang yang menuju ke arah barat adalah pegunungan Kapuas Hulu dan Plato Madi. Cabang terakhir ini dapat diikuti lebih lanjut ke arah barat sepanjang sumbu deprise yang dipotong oleh Sungai Kapuas berupa Anteseden, ke arah kelompok pegunungan yang menjorok ke laut seperti Niut (1701m). Kelompok pegunungan ini pecah menjadi sejumlah puncak yang terisolir dengan topografi pegunungan sisa. Jalur ini cembung ke arah barat lalu melalui ujung Datuk ke arah pegunungan yang tenggelam di selat Karimata sampai pulau Natuna.
• Sistem pegunungan Maratus yang membujur ke arah utara-selatan, puncak tertinggi adalah Gunung Besar (1892). Sistem ini memanjang sebagai Kongkemal-Niapa-Mangkaliat, di bagian tenggara kedudukannya terisolir. Untaian pegunungan ini terdapat di tengah, di bagian utara atau timur laut terdapat deretan pegunungan yang lebih rapat disebut pegunungan Iban terpecah dua ke arah selatan disebut pegunungan Meratus, ke arah barat daya bernama Muller-schwaner pegunungan Kapuas Hulu dan Kapuas Hilir. Puncak tertinggi pulau Kalimantan adalah Gunung Kilibalu(4101m) berada di wilayah negara bagian Sabah MalaysiaTimur. Pncak tertinggi di Kalimantan Indonesia adalah Gunung Bukit Rya (2278m) digugus pegunungan Schwaner, tepat ditapal batas Propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.Di antara pegunungan Kapuas Hulu-Kapuas Hilirda pegunungan Muller-Schwaner terdapat paparan dataran rendah aliran sungai Kapuas, yang semakin dekat dengan pesisir bertambah luas. Di antara gugus pegunungan Muller-Schwaner terdapat paparan dataran rendah yang lebih luas tembus ke pantai selatan Kalimantan, secara administratif turmasuk dalam wilayah propinsi Kalimantan Tngah dan Kalimanatn Selatan daerah tersebut dialiri sejumlah sungai besar kecil, dua diantaranya yang besarito (2344km) dan sungai Kahayan (833km). Dialiran sungai Mahakam (Kalimantan Timur) terdapat dataran rendah yang sempit. Secara kasar bagan pulau Kalimantan merupakan sebuah segitiga dengan semenanjung kecil pada sisi timur laut, yaitu Semenanjung Mangkaliat dan dua ujung yang membatasi Teluk Darvel. Pulau ini berbukit-bukit luas dan reliefnya bergunung-gunung yang tingginya sebagian besar tidak lebih dari 1500m.



Satuan Morfologi Perbukitan
Satuan morfologi ini menempati daerah bagian selatan, timur, dan barat laut, dengan luas sekitar 45 % daerah penyelidikan. Ketinggian berkisar antara 50 – 1.275 m dpl. dan kemiringan lereng antara 2o - 60o. Puncak bagian selatan ketinggiannya 800 m dpl., timur 425 m dpl., dan barat laut 1.275 m dpl.
Batuan penyusun morfologi ini, terdiri atas batuan gunung api, batuan terobosan, sedimen, dan batuan malihan berumur Tersier. Batuan tersebut telah mengalami proses tektonika yang mengakibatkan terjadinya struktur lipatan dan sesar.
Secara umum, aliran sungai-sungainya memperlihatkan pola dendritik dengan lembah sebagian berbentuk huruf V, yang menunjukkan bahwa proses erosi ke arah vertikal masih berlangsung dan sungai-sungai tersebut airnya dipasok oleh air tanah (effluent stream). Daerah morfologi ini, sebagian merupakan daerah akumulasi air tanah dan sebagian merupakan daerah imbuh air tanah bagi wilayah yang ada di bawahnya. Kualitas, kuantitas, dan kedalaman air tanah di daerah ini bervariasi.
Peruntukan lahan pada morfologi ini sebagian besar masih berupa hutan lebat dan belukar, sebagian kecil sudah dipakai sebagai perkebunan dan perladangan.
Sebuah sistem pegunungan yang luas dan lebar melintasi pulau ini dari pegunungan Kanibalu (4175m), merupakan puncak tertinggi di pualau Kalimantan, melalui pegunungan Iran dan Muller ke arah pegunungan Schwaner dengan Bukir Raja (2278m) di bagian barat dayanya. Sistem pegunungan kompleks ini membentuk bagian-bagian pokok dari pulau Kalimantan, yang merupakan pangkal percabangan orografis lainnya ke arah timur dan barat, sedangkan pegunungna Meratus yang membujur dari utara-selatan dimana puncak tertinggi sebesar (1892m), di bagian tenggara pulau tersebut mempunyai kedudukan yang lebih terisolir. Cabang yang terakhir dapat diikuti lebih jauh ke arah barat (pannekoek), sepanjang sumbu depresi yang terpotong oleh sungai Kapuas yang kemungkinan berupa sungai Anteseden ke arah kelompok pegunungan yang menjorok ke laut membentuk distrik-distrik Cina denga puncak tertinggi adalah Gunung Niut (1203m). Kelompok pegunungan ini terpecah menjadi sejumlah puncak-puncak yang terisolir dan merupakan sebuah topografi aneh dari pegunungan-pegunungan sisa. Jalur ini berbentuk cembung ke arah barat laut melalui Ujung Datuk ke arah Natuna

Gambar Peta Citra Satellite Topografi Kalimantan

KONDISI TANAH KALIMANTAN
Kondisi tanah merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi penyebaran vegetasi. Ada lima faktor utama dalam formasi tanah : litologi, iklim, topografi, mahluk hidup dan waktu. Sebagian besar tanah di Kalimantan berkembang pada dataran bergelombang dan pegunungan yang tertoreh diatas batuan sedimen dan batuan beku tua. Tanah-tanah ini berkisar dari ultisol masam yang sangat lauk dan inceptisol muda. Di bagian selatan dataran aluvial dan tanah gambut yang sangat luas, terus meluas sampai ke Laut Jawa. Perluasan ini masih terus terjadi di dangkalan Kalimantan bagian selatan, dengan endapan aluvial yang terbentuk di belakang hutan bakau pesisir.
Di daerah tropis yang lembab pelapukan berlangsung sangat cepat, disebabkan oleh panas dan kelembaban. Karena curah hujan yang tinggi, tanah selalu Basah dan unsur-unsur pokoknya yang dapat larut hilang ; proses ini disebut pelindian. Tingkat pelapukan, pelindian dan kegiatan biologi (kerusakan bahan-bahan organik) yang tinggi merupakan ciri berbagai tanah di Kalimantan (Burnham, 1984). Batuan Pulau Kalimantan miskin kandungan logam dan tanah Kalimantan umumnya kurang subur dibandingkan dengan tanah vulkanik yang subur di Jawa. Pelapukan sempurna yang dalam disertai dengan pelindian menghasilkan tanah yang kesuburannya rendah di berbagai dataran rendah. Lereng yang lebih curam mungkin lebih subur karena erosi dan tanah longsor terus membuka batuan induk yang baru.
Tanah di atas bagian utama Kalimantan tengah dan Kalimantan timur laut adalah ultasol (acrisol). Tanah yang mengalami pelapukan sangat berat ini membentuk jenis tanah podsolik merah-kuning di sebagian besar daratan Kalimantan yang bergelombang. Sebagian besar ultasol di Kalimantan adalah tropodult. Jenis udult sukar untuk digunakan secara intensif karena kandungan hara di bawah lapisan permukaan rendah dan komposisi antara kandungan aluminium yang tinggi dan keasaman yang kuat. Secara tradisional penduduk setempat telah menggunakan tanah ini untuk perladangan berpindah dengan tanaman berumur pendek dan masa bera yang lebih panjang supaya kesuburan tanah pulih kembali. Cara ini memberikan kesempatan bagi lapisan permukaan tanah untuk mengumpulkan humus dan bahan organik lagi yang penting bagi cadangan hara dan untuk mengatur kelembaban dan suhu tanah.
Kelompok tanah yang paling umum di Kalimantan adalah Inceptisol. Tanah ini pelapukannya sedang dengan profil yang jelas merupakan tanah Kalimantan yang relatif lebih subur. Di Kalimantan juga terdapat kelompok tanah aquept dan tropept. Jenis tanah tropoquept yang tersalir buruk terbentuk pada endapan sungai yang tererosi dari batu pasir silika periode Tersier. Sabak merupakan kelompok aquept yang paling tidak subur. Tanah tropept yang lebih subur tersebar luas, terutama di pegunungan yang terpotong tajam dan daerah pegunungan di tempat-tempat dengan kelerengan terjal dan erosi aktif. Beberapa tropept tua berkaitan dengan bentang lahan yang datar. Kelompok dystropept yang berwarna coklat tua kemerahan terbentuk di atas batuan masam dan bersilika, seperti batuan konglomerat, batuan pasir, dan batuan lanau mudah ditemukan di Kalimantan. Tanah histosol, nonmineral atau tanah yang terutama tersusun atas bahan organik disebut gambut, mencakup daerah yang luas di dataran rendah Kalimantan.
Tanah ini semula berupa dataran aluvial berbatu di rawa. Di sini serasah dan sampah organik terkumpul secara cepat, lebih dari 4.5 mm/tahun (Anderson, 1964), karena kondisinya yang tetap jenuh dan anaerob. Pada tanah tropohemist bahan organik hanya terurai sebagian. Histosol juga terdapat di Borneo sebagai lapisan bahan organik yang relatif tipis (50-150 cm) yang terkumpul di dataran tinggi dan perbukitan, dimana terdapat banyak awan dan kelembabanya tinggi. Tanah ini berupa gambut ombrogen (gambut asam) yang terkait erat dengan hutan lumut. Hampir seluruh tanah histosol sangat masam dengan kandungan hara utama dan hara tambahan rendah, sehingga sulit diolah dan memerlukan biaya tinggi untuk mengolahnya.
Tanah alfisol terbentuk bila batuan menghasilkan sejumlah besar bahan dasar ketika mengalami pelapukan, seerti marl berkapur dan batuan kapur di bagian timur Kalimantan. Di Kalimantan, malisol dibatasi oleh bentang lahan yang kaya akan kapur. Tanah ini berwarna gelap, karena kandungan humusnya tinggi dan kaya bahan dasar terutama kalsium. Secara umum jenis tanah ini miskin kalium yang merupakan hara utama. Kapur yang menyebabkan kekurangan hara tambahan merupakan masalah bagi kebanyakan tanaman di tanah yang keasaman dan keBasaan rendah. Rendol yang tersalir dengan baikdapat dengan mudah ditemukan dibagian timur Kalimantan, terutama di Semenanjung Sankulirang.
Tanah yang paling lapuk adalah exisol, didominasi oleh liat yang mempunyai sedikit mineral yang terdapat lapuk dan menghasilkan sedikit hara tanaman. Jenis tanah ini terdapat diatas batuan ulta Basa di Ranau dan Tawau, Sabah dan pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Walaupun tanah ini mengandung Mg/Ca dengan kadar tinggi dan nikel, krom dan kobalt yang berkadar tinggi, vegetasinya tidak berbeda dengan hutan disekitarnya. Sebaliknya tanah-tanah yang kaya akan bahan organik di daerah yang tinggi dengan gambut di atas batuan UltraBasa, seperti GunungKinibalu pada ketinggian 2.000-2.800 m, mendukung kehidupan vegetasi tertentu (Burnham 1984).
Jenis tanah entisolberasal dari batuan yang lebih muda dan kurang berkembang. Fluvent dan aquents (tanah aluvial) terdapat di dataran-dataran banjir pada lembah-lembah sungai dan di dataran pantai, yang menerima endapan baru dari lembah-lembah sungai dan di dataran pantai, yang menerima endapan baru dari tnah aluvial secara berkala. Tanah equents jenuh air dalam suatu periode yang panjang dalam satu tahun dengan ciri khas dalam, berwarna abu-abu dan warna lainnya; tingkat kesuburannya bergantung pada kandungan mineral dan bahan organik endapan aluvial asalnya. Tanah hydraquents terdapat di rawa pasang surut Kalimantan dengan ciri tanah ini muda, lunak, berlumpur dan belum berkembang. Tanah sulfaquents umumnya terdapat bersama-sama dengan hydraquents. Tanah-tanah yang tersalir buruk ini sangat terbatas untuk tanah pertanian, karena mengandung pirit, yng jika dikeringkan akan menimbulkan kondisi yang sangat masam dengan kadar besi dan aluminium sulfat yang cukup tinggi, sehingga bersifat beracun.

KONDISI IKLIM KALIMANTAN
Kalimantan terletak di katulistiwa dan memiliki iklim tropis dengan suhu yang relatif konstan sepanjang tahun, yaitu antara 250 -350 C di dataran rendah. Tipe vegetasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah curah hujan tahunan juga oleh distribusi curah hujan sepanjang tahun. Dataran rendah di sepanjang garis katulistiwa yang mendapat curah hujan minimum 60 mm setiap bulan dapat mendukung hutan yang selalu hijau (Holdridge 1967). Semua bagian Borneo terletak di daerah yang selalu Basah sepanjang tahun.
Pola curah hujan di Indonesia ditentukan oleh dua angin musim angin musim tenggara atau musim kering (Mei - Oktober) dan angin musim barat laut atau musim basah (Nopember - April). Dari Mei sampai Oktober matahari melintas Indocina dan Cina bagian selatan, dan suatu sabuk dengan tekanan rendah berkembang di atas daratan Asia yang panas. Angin yang membawa hujan bertiup ke arah utara dari daerah yang bertekanan tinggi di atas Australia dan Samudera India. Angin ini menyerap kelembaban sambil melintasi lautan yang luas. Ketika mencapai pulau-pulau di Kawasan Sunda Besar dan daratan Asia, angin naik ke atas karena harus melintasi jajaran bukit dan gunung. Sambil naik udara menjadi lebih dingin dan kelembabannya turun menjadi titik hujan. Hujan musim yang sangat lebat jatuh di atas India dan Cina bagian selatan dan curah hujan yang lebih rendah jatuh di pulau-pulau Dangkalan Sunda termasuk Kalimantan.
Kalimantan terletak di garis Equator dan memiliki iklim tropis dengan suhu yang relativ konstan sepanjang tahun antara 250 - 350 C di dataran rendah. Dataran rendah di sepanjang equator yang mendapat curah hujan minimum 60 mm setiap bulannya dapat mendukung hutan yang selalu hijau. Kalimantan terletak di daerah Basah sepanjang tahun. Memiliki sedikitnya bulan Basah dengan curah hujan kurang dari 200 mm. Angin musim barat laut (Nopember-April) pada umumnya lebih Basah dari pada angin musim tenggara, tetapi beberapa daerah pesisir menunjukkan pola curah hujan bimodal. Kalimantan dapat dibagi menjadi lima zona agroklimat. Sebagian besar daerah perbukitan yang tinggi menerima curah hujan 2.000 - 4.000 mm setiap tahun. Sebagian besar wilayah Kalimantan masuk ke dalam kawasan yang paling Basah (Oldeman dkk. 1980). Tidak seperti Sumatera, di Kalimantan tidak ada gunung-gunung di daerah pesisir yang mempengaruhi curah hujan, walaupun beberapa gunung yang pendek mempengaruhi curah hujan lokal, terutama di

Faktor-faktor yang menentukan Iklim diantaranya suhu, kelembaban udara, curah hujan dan keadaan angin. Suhu di suatu tempat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan laut dan jarak dari pantai. Semakin tinggi suatu tempat suhu rata-ratanya semakin rendah, demikian pula semakin jauh dari pantai suhu rata-ratanya semakin rendah. Kelembaban udara di Indonesia rata-rata relatif tinggi. Curah hujan adalah air yang jatuh hingga ke permukaan bumi. Variasi curah hujan di Indonesia sangat tinggi karena faktor topografi dan keadaan angin yang dapat mempengaruhi pembentukan awan. Kecepatan angin di Indonesia berkisar 2,48 Km/Jam sampai dengan 21,0 Km/Jam. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan angin adalah perbedaan tekanan suhu.
 Kalimantan barat adalah kawasan yang paling Basah, sementara bagian-bagian di pesisir timur jauh lebih kering. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah merupakan kawasan yang paling Basah. Angin musim Barat laut di Kalimantan Barat pada bulan Agustus - September dan musim hujan berlangsung sampai bulan Mei. Curah hujan sangat tinggi terutama pada bulan Nopember dan yang kedua pada bulan April. Pada bulan Juni-Agustus iklim relatif lebih kering, akan tetapi tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm. Curah hujan tahunan di Putussibau (Kapuas Hulu) mencapai lebih dari 4000 mm dan tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 200 mm. Dengan wilayah panas sepanjang tahun dan daerah lembab. Angin musim barat laut mencapai Kalimantan Barat pada bulan Agustus- September dan musim hujan berlangsung sampai bulan Mei; curah hujan sangat tinggi terutama pada bulan Nopember dan yang kedua pada bulan April. Dari bulan Juni sampai Agustus, iklim relatif lebih kering tetapi tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm. Curah hujan di Putusibau lebih dari 4.000 mm dan tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 200 mm.

Curah Hujan dan Suhu Udara
Data curah hujan tahunan di daerah penyelidik-an (BPS Sambas, 2005) berkisar antara 2.737 sampai 3.050 mm/tahun atau rata-rata tahunan sebesar 2.893 mm/tahun dengan rata-rata bulanan sebesar 241 mm/bulan. Bila curah hujan ini jatuh di atas daerah Cekungan Air Tanah (CAT) Sambas dengan luas sekitar 3.229 km2 atau 3.229 juta m2 akan diperoleh debit curah hujan sekitar 778.189 juta m3/tahun.
Distribusi curah hujan per bulan umumnya > 100 mm (bulan relatif basah). Data ini juga mencerminkan daerah penyelidikan umumnya beriklim relatif basah (Stasiun Meteorologi Sambas). Besarnya intensitas hujan (curah hujan dibagi hari hujan) di daerah penyelidikan, yakni berkisar dari 8,2 sampai 24,6 mm/hari atau rata-rata sekitar 15,9 mm/hari. Suhu udara bulanan di daerah penyelidik-an berkisar dari 26,12 sampai 27,200 C.

Evapotranspirasi
Evapotranspirasi (evapotranspiration) adalah proses kembalinya air ke udara yang disebabkan oleh penguapan yang berasal dari permukaan tanah (sungai, danau) dan tumbuh-tumbuhan. Proses serupa namun hanya berasal dari tubuh air (water body) atau permukaan tanah tanpa tetumbuhan disebut evaporasi (evaporation). Jumlah uap air yang kembali ke udara tersebut merupakan komponen pengurang (losses) yang berpengaruh terhadap terbentuknya air tanah. Perhitungan evapotranspirasi potensial (potential evapotranspirasition, ETp) dilakukan dengan metode Emaruchi (1984).
Perhitungan evapotranspirasi nyata atau hujan efektif didasarkan pada selisih antara curah hujan dan evapotranspirasi potensial. Bila curah hujan lebih kecil dari evapotranspirasinya, maka nilai evapotranspirasi yang dipakai adalah sebesar curah hujan itu sendiri. Hasil penghitungan menunjukkan ETp bulanan rata-rata antara 124 – 151 mm dan ETp tahunan mencapai 1.524 mm. Sementara itu, dari besarnya evapotranspirasi nyata (actual evapotranspiration, ETa) bulanan terhitung antara 9,55 – 235,15 mm dan ETa tahunan yang mencapai 1.328 mm dalam luasan 13.400 km2 akan menghasilkan volume evapotranspirasi nyata (hujan efektip) sebesar 17.795 juta m3/tahun (sekitar 45 % total hujan).

KONDISI HIDROLOGI KALIMANTAN

Kalimantan merupakan pulau yang memiliki lahan gambut yang sangat luas,kondisi hidrologi Kalimantan umumnya sanagt dipengaruhi oleh lahan gambut, karena hutan rawa gambut dalam kondisi murni air tawar memiliki karakteristik kimiawi yang khas. Airnya sangat asam (pH 3,0 4,5) dan unsur hara yang sangat rendah, karena tidak ada nutrisi atau komponen penyangga yang dapat mengalir masuk dari luar area gambut tersebut. Tanah gambut dalamkondisi yang tak terganggu itu mengandung 80 90 persen air. Karena kemampuannya untuk menyimpan air dalam jumlah besar itu, hutan rawa gambut berperan penting dalam mengurangi banjir dan menjamin pasokan air yangberkelanjutan. Hutan rawa gambut seringkali digolongkan sebagai BlackwaterSystems (Sistem Air Hitam), karena air yang mengalir dari area tersebutdipengaruhi oleh bahan dari tanah gambut, yang menyebabkan airnya berwarna seperti "cola" gelap. Kalimantan ditempati oleh tiga sungai besar, yaitu Kapuas, Barito, dan Mahakam. Mata air sungai Kapuas terletak di Cemaru (1681 m) berada di bagiantengah Kalimantan. Sungai tersebut mengalir ke barat menuju palung yang bermuara dengan beberapa cabang ke dalam laut. Sungai Barito, bermata air dipegunungan Muller, mengalir ke selatan dari Muaratewe melalui basin Barito yang berawarawa. Sungai Mahakam mempunyai mata air di Cemaru, memotong sumbu Pretertier Kalimantan di sebelah timur Batuayan (1652 m) hingga basin Tertier Kutai. Hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah dialiri oleh sungai besar dankecil yang mengalir dari Utara ke Selatan dengan bermuara di Laut Jawa.

Keadaan pasang surut Sungai Kapuas merupakan aspek hidrologis yang sangatberperan dan berpengaruh terhadap kota Pontianak. Ada dua faktor fisik utamayang berpengaruh terhadap aspek hidrologis ini, yaitu keadaan topografi yang rata-rata rendah di atas permukaan laut dan posisi geografis kota yang beradapada garis khatulistiwa. Besarnya pengaruh pasang dan curah hujan yang tinggiterutama terjadi pada daerah-daerah pinggiran sungai. Besarnya pengaruh pasang surut ini berkisar antara 1 -2 meter.

1.Habitat Pesisir

Wilayah pesisir umumnya didefinisikan sebagai suatu jalur daratan danlaut yang terdapat di sepanjang pesisir. Wilayah ini hanya sebagian kecil di Kalimantan. Wilayah ini mencakup beberapa habitat yang dari segi ekologisangat produktif, yaitu muara sungai, lahan basah pasang-surut, hutan bakaudan terumbu karang, dan juga merupakan daerah temapat tinggal sebagaian besar penduduk Kalimantan, di mana sebagian besar pembangunan sedang
berlangsung. Garis pesisir Kalimantan membentang sejauh 8.054 km, yakni dariSemenanjung Sambas di bagian barat sampai Pulau Nunukan di perbatasanSabah. Sebagaian besar garis ini berhadapan dengan pantai yang dangkal, dandibelakangnya terdapat hutan bakau dan hamparan lumpur, atau pantaiberpasir yang luas, yang tepinya ditumbuhi pohon-pohon cemara Casuarina. Habitat -habitat utama di Kalimantan meliputi pulau-pulau kecil berbatu-batu, formasi terumbu karang, garis pantai berbatu-batu termasuk tanjung pantaiberpasir, asosiasi bakau/nipah, dan hamparan lumpur, serta muara sungai.

2.Habitat Air Tawar

Di belakang batas hutan bakau dan nipah daerah pesisir, tanah yangtergenang air di dataran rendah Kalimantan menunjang kehidupan rawa gambut dan hutan air tawar yang sangat luas. Kalimanta, secara keseluruhan, memiliki lahan basah seluas 20.116.000 ha. Dari lahan seluas itu, yang tersisa sekitar 12.478.000 ha. Persoalannya adalah dari 20 juta ha luas lahan itu, yang dilestarikan hanya sebesar 1.322.000 ha.Rawa rawa di daerah Kalimantan Selatan dan Tenggara adalah dataranrendah yang paling rendah di seluruh Kalimantan. Selam musim kemarau rawa rawa itu ditanami padi rawa (padi bencah), dan untuk memperbesar produksi pertanian usaha pengeringan rawa (drainase dalam bentuk polder polder) banyak dilakukan.

3.Daerah Aliran Sngai

Borneo merupakan daratan dengan sungai-sungai besar: SungaiKapuas, Sungai Barito, Sungai Kahayan, Sungai Kayan, dan SungaiMahakam di wilayah Kalimantan. Sungai-sungai ini merupakan jalur masuk utama ke pedalaman pulau dan daerah pegunungan tengah. Semakin ke hulu, sungai lebih sempit. Sungai tersebut mengalir melalui hutan-hutan perbukitan,berarus deras, dan airnya jernih.Kebanyakan sungai-sungai utama di Kalimantan terdapat di jajaran pegunungan tengah. Sungai-sungai itu semakin lebar dan semakin besarvolumenya menuju ke laut, karena ada tambahan air dari anak-anak sungainya, yang membentuk sungai utama yang mengalirkan air dari daerahaliran sungai yang luas. Debit air bervariasi menurut musim. Kecepatan arus, kedalaman air, dan komposisi substrat bervariasi menurut panjang aliran dan lebar sungai, dan ini mempengaruhi biota yang dapat hidup di dalamnya. Kondisi air dan perairan di pulau Kalimantan meliputi perairan umum(sungai, danau, dan lain-lain) dan perairan laut. Persediaan air tanah diKalimantan cukup tinggi dengan turunnya hujan sepanjang tahun dan keadaan alam yang berupa hutan.




POTENSI WILAYAH
Di dunia, juga di Indonesia, dan khususnya di pulau Kalimantan ketersediaan ruang terbatas. Artinya berbagai kegiatan dan sumber daya alam yang terkandung dan tersedia di pulau Kalimantan ini terbatas. Bila pemanfaatan potensi wilayah tidak diatur dengan baik maka bedasarkan konsepsi dan diagram seperti yang diuraikan di atas, kemungkinan besar akan terjadi pemborosan manfaat sumber daya alam yang tersedia di Kalimantan ini, dan lebih jauh akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup. Nilai ekonomis yang diharapkan bagi pengembangan potensi wilayah Kalimantan tidak akan tercapai dan yang akan terjadi kerusakan lingkungan (baik renewable maupun yang non renewable) yang justru akan menjadi cost yang never ending.
Pulau Kalimantan sebagian besar merupakan daerah pegunungan atau perbukitan (39,69 %), daratan (35,08 %), dan sisanya dataran pantai atau pasang surut (11,73 %) dataran aluvial (12,47 %), dan lain-lain (0,93 %). Karena sebagian besar pegunungan, maka di Kalimantan terdapat potensi beberapa taman nasional sebagai konservasi flora dan fauna dan hutan di pegunungan Muller serta sebagian di Schawner yang ditetapkan sebagai world heritage forest dan merupakan cadangan air seluruh Kalimantan sebanyak sekitar 35 % yang tidak akan habis di masa yang akan datang dengan syarat tidak teganggu dan tercemar serta perlu dilindungi sebagai suatu ekosistem. Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara wilayah Indonesia adalah daerah pegunungan tinggi dengan kemiringan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri, rotan, damar, dan tengkawang. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu, ramin, dan cendana sudah hampir punah. Analisis ekonomi hasil hutan dengan ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat, wilayah dan ekonomi nasional.
Kondisi tanah di Kalimantan pada umumnya tidak subur untuk kegiatan usaha pertanian (JICA, 1998). Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut, lahan bertanah asam, berpasir, dan lahan yang memiliki kelerengan curam. Sebagian besar lahan Gambut ini ada di Kalimantan tengah dan selatan dan sebagaian kecil di pantai Kalimantan barat dan di Kaltim bagian utara. Kondisi tanah di dataran teras pedalaman, pegunungan, dan bukit-bukit relatif agak baik untuk kegiatan pertanian. Untuk ini diperlukan optimasi pemanfaatan lahan agar hasil gunaanya dapat memberikan nilai ekonomis dan perkembangan pada wilayah. Memilih kesesuaian ruang untuk kegiatan uasaha yang sesuai dengan kesesuan tanah sangat diperlukan.

Potensi Hidrologi
Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka, dan hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat.

Potensi Pertambangan
Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas, mangan, bauksit, pasir kwarsa, fosfat, mika dan batubara. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah, pantai, dan off sore. Kegiatan ertambangan ini seringkali menimbulkan konflik dengan pemanfaatan ruang lainnya yaitu dengan kehutanan, perkebunan, dan pertanian. Oleh karenanya optimasi pemanfaatan SDA agar tidak hanya sekedar mengejar manfaat ekonomi perlu ada pengaturan ruang.


Pertambangan Batubara
Formasi Warukin dari bawah ke atas terdiri atas runtunan batupasir kuarsa, batu lempung – batu lumpur, batulanau dan konglomerat, serta sisipan batubara. Di daerah Sampit formasi ini dapat dikelompokkan menjadi tiga fasies batuan, dari bawah ke atas, yakni: fasies batupasir, fasies batulempung-batulumpur dan batulanau; dan fasies konglomerat (Gambar 5). Batubara di dalam formasi ini menempati fasies batupasir dan fasies batulempung-batulumpur dan batu lanau. Batubara yang menempati fasies batupasir memiliki karakteristik warna hitam, kilap bagus, sifat beban ringan, sebagian mengandung parting lempung kelabu kecoklatan, dengan tudung serpih batubaraan dan alas batupasir. Sementara batubara yang menempati fasies batulempung dan batulumpur, memiliki karakteristik warna hitam kecoklatan, kilap bagus, mudah diremas, dan mengandung sisipan serpih batubaraan. Tudung dan alas batubara pada fasies ini terdiri atas batulempung dan batulumpur yang menyerpih.
Batubara yang terbentuk pada fasies batupasir yang bercirikan struktur sedimen laminasi sejajar, silang siur planar dan adanya gradasi menghalus ke atas kemungkinan terbentuk pada kondisi energi relatif tenang sampai menengah. Sementara batubara yang terbentuk pada fasies perselingan batulempung dan batulumpur yang bercirikan struktur sedimen laminasi sejajar, gradasi normal, silang siur skala kecil dan planar dan setempat laminasi menggelombang sejajar, dan banyak mengandung material karbon, diperkirakan diendapkan dalam kondisi energi dari dua arah baik darat maupun laut, yang mencerminkan suatu kondisi lingkungan peralihan atau transisi.
Sedangkan rawa meliputi daerah bagian pesisir barat, utara, dan bagian selatan daerah penelitian. Morfologi ini ditempati oleh material lepas berukuran lempung hingga kerakal, hasil erosi sungai, yang umumnya dimanfaatkan sebagai lahan permukiman, kebun campuran, dan pertanian berupa persawahan, dan ladang. Daerah aliran sungai yang sebagian atau seluruhnya termasuk dalam satuan morfologi ini adalah Sungai Sambas Besar, Selakau, Bantanan, Tampanan, Empayang, Sentimo, Setatuk, Biang, Blang, dan Sungai Kumba. Proses erosi sungai yang terjadi sudah mengarah lateral, sehingga penampang sungai menyerupai bentuk huruf U, serta alur sungai yang berkelok-kelok. Mengingat proses tersebut, sungai-sungai yang mengalir pada morfologi ini sangat berperan dalam mengisi air tanah (influent stream). Pola aliran sungai di daerah morfologi ini adalah pola aliran anastomatik.




Kalimantan timur
Berdasarkan lokasi keberadaan, karakter batubara, kontrol struktur dan runtunan batuan pembawa batubara, batubara wilayah Sampit dapat dibagi menjadi dua blok batubara (Gambar 4); masing-masing adalah Blok Kuayan (sekitar Sungai Kuayan, Pemantang Kanan, Santilik, dan Sungai Mentaya) dan Blok Katingan (Sungai Katingan Hulu, Pendahara, dan Katingan Hilir).
- Blok Kuayan
Batubara dijumpai di Sungai Kuayan, Sungai Pemantang Kanan, Sungai Santilik, Sungai Tangsi, dan Sungai Mentaya. Litotipe batubara di blok ini umumnya berwarna hitam kecoklatan, kilap kusam, kekerasan sedang - getas, bagian atas batubara menyerpih dan sebagian hancur, parting berupa batulempung kelabu kecoklatan, dan masih tampak sisa batang pohon dan resin berwarna bening; ter-cleat-kan. Pemerian terperinci batubara di Blok Kuayan tersaji pada beberapa lintasan lapangan di bawah ini.


- Lintasan Sungai Kuayan
Batubara di Sungai Kuayan dengan ketebalan mencapai 180 cm terendapkan pada fasies batupasir (Gambar 6). Batubara kontak secara tajam di bagian bawahnya dengan batupasir kuarsa, berbutir halus sampai menengah, bentuk butir membundar, kemas tertutup, yang tertanam dalam semen lempung dan felspar; dan di bagian atasnya, kontak secara tajam pula dengan batulempung, kelabu, pejal, sebagian getas, mengandung sisipan batupasir, serpih kelabu hitam, dan material karbon di bagian atasnya.
- Lintasan Sungai Pemantang Kanan
Batubara di Sungai Pemantang Kanan tersingkap di bagian bawah Formasi Warukin, yakni pada fasies batupasir kuarsa dan batulempung. Formasi Warukin ini menindih tak selaras Batuan Malihan dan Batuan Gunung Api. Kemungkinan batubara di sini terbentuk pada saat pasang surut terjadi dan hadirnya tumbuhan berbatang tinggi di wilayah ini, yang ditunjukkan oleh beberapa sisa tumbuhan berupa batang yang masih terlihat pada batubara yang tersingkap.
Lapisan batubara yang tersingkap di Sungai Pemantang Kanan terdiri atas dua lapisan, yakni A dan

Potret lapisan batubara (C) yang ditindih oleh batupasir kuarsa di Sungai Kuayan.

Gambar 8. Kolom stratigrafi Singai Pemantang Kanan.B (Gambar 8). Masing-masing lapisan mempunyai karakter dan ketebalan yang beragam, berturut-turut dari bawah ke atas adalah sebagai berikut:

Lapisan A dijumpai di Sungai Pemantang Kanan pada bagian bawah Formasi Warukin (Gambar 9). Batubara berwarna hitam agak kecoklatan, kilap tanah kusam (dull), cenderung menyerpih, sifat beban ringan dan tidak ada lapisan pengotor (parting). Tebal lapisan batubara ini mencapai 200 cm, dialasi batupasir kuarsa, dan ditindih oleh batulempung karbonan.

Lapisan batubara kedua (lapisan B) ketebalannya sekitar 120 cm, dan dialasi oleh batulempung karbonan serta ditindih oleh perselingan batulempung dan batulumpur, warna kelabu gelap dan berlapis baik. Batubara ini berwarna hitam agak kecoklatan, kilap sutera (silk bright), sifat beban agak ringan. Parting berupa lempung, berwarna kelabu gelap dengan tebal 1-2 cm.

Gambar 9. Potret batubara lapisan A dengan tebal 150 cm pada runtunan batupasir kuarsa dan batulempung di Sungai Pemantang Kanan.

- Lintasan Sungai Santilik
Di Sungai Santilik terdapat dua lapisan batubara, yakni lapisan pertama (Seam A) berwarna hitam kecoklatan, gores hitam, dengan warna kusam, pejal, kekerasan sedang sampai getas, sifat beban ringan - agak berat, masih tampak sisa batang pohon dan terdapatnya getah resin. Singkapan menerus dan memiliki ketebalan sekitar 60 cm. Bagian atas lapisan batubara ini ditindih oleh batulempung kelabu terang, konkoidal, sentuhannya dengan batubara sebagian tajam di bagian lain berangsur.
Di atas batulempung ini ditemukan lapisan batubara kedua (Seam B), hitam, dengan gores hitam, memperlihatkan perlapisan sejajar, dan ter-cleat-kan terbuka. Tebal batubara ini 50 cm (Gambar 10).
- Lintasan Sungai Tangsi
Batubara di Sungai Tangsi (cabang Sungai Kuayan) berwarna hitam, agak hancur sebagian subkonkoidal, dan memperlihatkan laminasi sejajar, goresan kehitaman, dengan kilap kusam, sisa fosil batang kayu terlihat pada bidang belah batubara, kemiringan hampir mendatar (N15˚E/9˚) dan ketebalan mencapai 30 cm (Gambar 11).


Gambar 12. Lintasan geologi dan singkapan batubara di Sungai Mentaya.

Batubara diendapkan di bagian atas fasies batupasir. Bagian bawah fasies ini kontak secara tajam dengan batugamping yang diduga bagian Formasi Berai. Batupasir kelabu terang dengan komponen terdiri atas kuarsa dan fragmen litik; ukuran butir menengah-halus, bentuk butir membulat - membulat tanggung, kemas tertutup, massa dasar lempung dan felspar. Sisipan terdiri atas lapisan tipis dan lensa-lensa batulempung, setempat gampingan. Tebal batupasir ini mencapai 600 cm.
Di atas batubara terdapat batulempung, kelabu terang, karbonan, dan juga berupa parting dalam runtunan batubara dengan tebal 2 cm. Di atas batulempung kemudian dijumpai lagi batubara, retak-retak, subkonkoidal, agak ringan - ringan, hitam, dengan gores hitam, getas - rapuh, perlapisan sejajar, dengan arah jurus dan kemiringan N15˚E/9˚.
- Lintasan Sungai Mentaya
Di Sungai Mentaya batubara dijumpai dalam fasies batupasir kuarsa, yang berwarna kelabu terang pilahan baik, padu, serta mengandung sisipan batulempung dan batulanau (Gambar 12). Batulempung, kelabu hitam, berlapis baik yang berselingan dengan batulanau-batulumpur dan mengandung material karbon. Struktur sedimen yang dijumpai adalah silang-siur planar, laminasi sejajar, gradasi, dan gelembur gelombang.
Batubara memiliki dua lapisan yang masing-masing ketebalannya 100 cm dan 120 cm, jurus berarah barat laut dan kemiringan 15° dan 20° ke arah timur laut. Lapisan batubara berwarna hitam kecoklatan, di bagian bawahnya pejal dan semakin ke atas menyerpih, sebagian hancur, diduga karena adanya parting batulumpur. Struktur sedimen yang
dijumpai mengindikasikan bahwa lingkungan peng-endapan batubara di wilayah ini adalah distributary channel atau distal bar (Reading, 1978; Reineck & Singh, 1980).

Blok Katingan
- Lintasan Sungai Katingan Hulu
Batubara di lintasan ini terdapat dalam fasies batulempung-batulumpur (Gambar 13). Batubara, hitam kecoklatan, dull banded, warna gores hitam kecoklatan, sifat beban ringan - agak berat, berlapis dan sebagian pejal terutama di bagian bawahnya, Kuayandengan kekerasan antara menengah sampai getas. Batubara ini memiliki bidang belah subkonkoidal, dan memiliki jejak fosil batang kayu dan resin.

Gambar 13. Runtunan batuan dan sisipan batubara di Su-ngai Katingan Hulu.


- Lintasan Katingan Hilir
Batubara dijumpai pada fasies perselingan batu-lempung-batulumpur, dan terdiri atas dua lapisan yang masing-masing ketebalannya 60 cm (lapisan A) dan 150 cm (lapisan B) (Gambar 14). Lapisan A, warna hitam dan di bagian bawahnya pejal dan bagian atasnya menyerpih. Lantai dan tu¬dung batubara terdiri atas perselingan batulempung-batulumpur, dan batubara sebagai sisipan dalam runtunan perselingan batuan ini.
Lapisan B, berwarna hitam, menyerpih, kilap bagus, dengan sifat beban ringan, warna gores hitam dan mengandung sisipan tipis batulempung. Dasar batubara terdiri atas lempung batubaraan dengan tebal 30 cm, berwarna hitam, menyerpih, lunak, dan mengkilat. Tudung batubara berupa batulempung kelabu, besisipan batupasir, yang semakin ke atas batupasir semakin dominan dan semakin menebal.
- Lintasan Sungai Pendahara
Batubara dijumpai pada fasies batulempung-batulumpur dengan ketebalan mencapai 60 cm (Gambar 15). Lapisan penutup batubara terdiri atas batupasir kehitaman, karbonan, sangat lapuk, dengan warna kehitaman, ketebalan mencapai 300 cm. Sementara itu, bagian bawahnya berupa batulempung agak pasiran berwarna kelabu - kecoklatan agak hitam dan lunak.

Keterdapatan dan Karakteristik Batubara
Fasies batuan pembawa-batubara di kedua blok juga memiliki kesamaan runtunan litologi, seperti Seam A baik di Sungai Kuayan maupun di Sungai Katingan Hilir secara umum menempati fasies batupasir, sementara Seam B menempati fasies perselingan batulempung dan batulumpur. Kemiringan lapisan batubara di Blok Kuayan dan Blok Katingan saling berhadapan, yakni masing-masing berarah hampir tenggara dan barat laut (Gambar 16). Hal ini mengindikasikan bahwa pembentukan kedua seam batubara di kedua blok ini terletak dalam suatu cekungan dan lingkungan pengendapan yang sama, yang karena suatu gerakan tektonika terbentuklah sinklin dengan arah sumbu timur laut - barat daya.
Seam Batubara Blok Kuayan dan Blok Katingan masing-masing memiliki karakteristik dan sifat fisik yang hampir sama, baik dari segi litotipe, nilai kalori, kadar abu, maupun kandung belerang total (Tabel 1 Katingandan 2), kecuali percontoh KP-09 (Seam B) di Sungai Pendahara, Blok Katingan yang memperlihatkan kandungan belerang total 5,56%.


Gambar 15. Potret singkapan batubara Formasi Warukin pada sumur uji di Sungai Pendahara.
Lingkungan Pengendapan
Batubara di daerah Sampit terendapkan pada fasies batupasir kuarsa dan fasies perselingan batu-lempung–batulumpur Formasi Warukin (Gambar 16) yang berlingkungan pengendapan fluviatil - laut dangkal (Heryanto & Sanyoto, 1994; Heryanto drr., 1998).
Pada fasies batupasir, batubara umumnya diendapkan di bagian atas (Gambar 6, 7, dan 12), yang menghasilkan endapan batubara dengan ciri berlapis baik dan menyerpih. Di beberapa tempat seperti di Sungai Pemantang Kanan, dalam lapisan batubara masih terdapat sisa tumbuhan berupa batang dan akar kecil-kecil, yang menandakan bahwa proses pembentukan batubara berada dalam lingkungan hutan-rawa basah dengan pepohonan tinggi dan juga semak perdu rendah. Energi arus rezim rendah - menengah mempengaruhi pula proses sedimentasi, Hal ini dibuktikan dengan hadirnya struktur laminasi sejajar dan gradasi menghalus ke atas.
Batubara yang terendapkan pada runtunan fasies perselingan batulempung-batulumpur (Gambar 8 & 10) menghasilkan endapan batubara dengan karakteristik berlapis baik akibat energi arus yang lemah; terdapatnya struktur kayu juga mengindikasikan batubara terendapkan di lingkungan hutan-rawa basah dengan pepohonan tinggi. Hadirnya serpih batubaraan menunjukkan adanya pengaruh masukan lumpur halus (mineral lempung) ke dalam rawa dan juga terjadinya pertumbuhan perdu-perdu rendah.
Dari sudut pandang hasil analisis proksimat, batubara ini terendapkan dalam lingkungan terestrial, tanpa ada pengaruh laut sama sekali. Dugaan ini ditunjukkan oleh kandungan belerang total yang rendah. Kandungan abu yang cukup rendah mengindikasikan kandungan bahan mineral (mineral matter) dalam batubara yang juga rendah.
Proses sedimentasi yang sangat berpengaruh pada pengendapan Formasi Warukin dan tipe batubara adalah proses susut laut. Hal ini tercermin dari runtunan fasies batuan di bagian bawah yang bersifat gampingan dan masih terpengaruh oleh lingkungan laut. Semakin ke atas lingkungan menjadi bersifat darat dengan semakin menebalnya batupasir dan kemudian berubah menjadi batupasir konglomeratan.
Peringkat, Kualitas, dan Tipe Batubara




Beberapa parameter yang menentukan kualitas batubara daerah Sampit yakni nilai kalori, kadar abu, air lembab, dan kandungan belerang. Kalori peringkat rendah, mencerminkan proses pembatubaraan di kawasan ini kurang intensif. Diduga saat bahan pembentuk batubara terendapkan, penimbunan yang terjadi tidak terlalu dalam akibat pengendapan Formasi Warukin di daerah ini berlangsung dalam kondisi susut laut, dengan penurunan cekungan yang relatif pelan.
Pada Gambar 17 disajikan suatu diagram yang menggambarkan peringkat batubara Blok Kuayan dan Blok Katingan berdasarkan diagram Leeder (1982). Secara umum tergambar bahwa nilai kalori Blok Kuayan dan Blok Katingan hampir sama, hanya Blok Kuayan agak sedikit lebih tinggi. Nilai


kalori batubara Formasi Warukin di daerah Sampit untuk Blok Kuayan berkisar dari 4.279 kal/g sampai 5.630 kal/g, sedangkan Blok Katingan dari 4.254 kal/g sampai 5.540 kal/g. Nilai kalori batubara kedua blok terletak pada suatu wilayah tipe subbituminus (Gambar 17). Nilai kisaran kelembaban batubara di Blok Kuayan antara 12,04 - 22,20%, dan di Blok Kating-an dari 13,08 - 24,22%, yang diplotkan ke dalam diagram Leeder (1982) (Gambar 14) mencerminkan batubara di wilayah ini saat pengendapannya telah mengalami penimbunan dengan ketebalan kurang dari 1.000 m.

Gambar 17. Diagram Leeder (1982) yang memperlihatkan hubungan antara kelembaban, nilai kalori dan kedalaman penimbunan batubara Blok Kuayan dan Blok Katingan.

KALIMANTAN BARAT
Emas dan perak
Lokasi daerah kajian terletak di lepas pan¬tai muara Sungai Sambas Besar dan sekitarnya, yang dibatasi oleh koordinat 1o05’-1o16’ LU dan 108o53’20”-109o00’00” BT, serta termasuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Pemangkat, Kabu¬paten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, dengan luas sekitar 110 km2 (Gambar 1).
Daerah Kabupaten Sambas sejak jaman penjajahan dikenal sebagai daerah penghasil emas dan perak (Van Leeuwen, 1994). Emas di daratan Kabupaten Sambas yang telah dieksploitasi sejak abad ke-18 berasal dari emas primer pada jalur lipatan Sekadau di sebelah timur daerah kajian dan sebagian besar dari singkapan batuan malihan Formasi Seminis. Sebaliknya, endapan emas aluvial telah diketahui sejak abad ke-19. Emas ditambang dari endapan koluvium dan undak sungai yang permukaannya telah mengalami pengayaan secara kimiawi. Konsentrat emas juga ditemukan pada lubang kerukan dan batuan dasar yang menjadi lantai lembah purba yang ditimbun oleh undak endapan Plistosen.
Saat ini kegiatan penambangan dengan cara mendulang masih dilakukan masyarakat setempat. Kegiatan penambangan dilakukan di dataran rendah antar perbukitan dan daerah aliran sungai, terutama pada undak-undak sungai purba dan daerah sekitar aliran Sungai Sambas Besar yang mengalir dari daratan Kalimantan. Sungai Sambas Besar menyayat berbagai formasi batuan, termasuk Formasi Seminis berumur Perem Akhir - Trias Awal, Batuan Terobosan Sintang yang berumur Oligosen Akhir - Miosen Awal, dan Granit Pueh berumur Kapur Akir (Rusmana dan Pieters, 1993). Batuan-batuan tersebut adalah batuan yang kaya mineral kuarsa dan mengandung unsur sulfida terutama emas dan perak. Berdasarkan penyebaran sedimen aluvium yang kaya mineral kuarsa hingga ke arah pantai dan lepas pantai Sungai Sambas Besar, maka diharapkan kajian ini dapat mengidentifikasi penyebaran emas dan perak, terutama di lepas pantai Sungai Sambas Besar.



Kegiatan Perkebunan
Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah sawit, kelapa, karet, tebu dan perkebunan tanaman pangan. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran, karena keterbatasan lahan dinegara jiran tersebut. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai masih diperlukang dukungan prasarana wilayah. Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan dengan negara asing, maka Kalimantan mempunyai masalah yang terkait ilegal trading dam smugling, apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju pesat. Selain itu pesoalan illegal logging yang sering merusak potensi sumber daya alam (hutan tropis) terus berkembang sejalan dengan tingkat ekonomi masyarakat perbatasan yang belum maju tersebut. Disamping masalah dalam konteks illegal diatas, pulau Kalimantan juga mempunyai potensi antara lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerjasama ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai, Indonesia, Malaysia, Philipina Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalu perdagangan laut internasional.
Potensi besar dari hutan-hutan di Kalimantan dihasilkan kayu industri, rotan, damar, dan tengkawang. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu, ramin, dan cendana sudah hampir punah. Analisis ekonomi hasil hutan dengan ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan secara serius untuk kesejahteraan masyarakat setempat, wilayah dan ekonomi nasional.
Lahan yang luas di Kalimantan telah dieksploitasi secara buruk. Operasi pembalakan yang dikelola dengan buruk pula, serta rencana-rencana pertanian yang gagal, telah meninggalkan bekas-bekasnya pada bentang lahan di Kalimantan. Padang pasir putih yang luas dan kerangas yang mengalami lateralisasi menjadi merah dan ditinggalkan, padahal semula ditumbuhi hutan lebat. Setiap tahun padang alang-alang menjadi kering dan terbakar. Hutan tidak mendapat kesempatan untuk mengadakan regeneresi dan lautan padang rumput terus bertambah luas.
Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan/sesar dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwaner dan Gunung Benturan, serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat, selatan dan timur. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini.
Kalimantan berperan penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia dan merupakan salah satu penghasil devisa utama. Pada tahun 2003, Kalimantan menghasilkan 29 % pendapatan sektor Indonesia yang berasal dari migas, 25,72% dari sektor pertambangan dan 34.54 % dari sektor hutan.

PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan tentang pulau Kalimantan sebagai berikut:
1. Kondisi Fisiografis Kalimantan yang meliputi:
Kondisi geologis Kalimantan, sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus., batuan vulkanik dan endapan tersier. Kalimantan tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapi memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan. Kondisi geomorfologis Kalimantan, Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan atau sesar dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Kalimantan memiliki pulau yang datar, dikarenakan mempunyai pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama disebelah selatan dan barat.
Kondisi hidrologi Kalimantan, untuk perairan daerah Kalimantan didukung dengan adanya beberapa sungai beasr yang mengaliri wilayah Kalimantan diantaranya yaitu, Sungai Mahakam, Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Negara, Sungai Baram dan sungai-sungai kecil lainnya yang mendukung suplai air yang ada didaerah Kalimantan. Kondisi iklim kalimantan, Kalimantan terletak di garis Equator dan memiliki iklim tropis dengan suhu yang relative konstan sepanjang tahun antara 250 350 C di dataran rendah. Memiliki sedikitnya bulan Basah dengan curah hujan kurang dari 200 mm. Angin musim barat laut (Nopember-April) pada umumnya lebih Basah dari pada angin musim tenggara.
Kondisi tanah Kalimantan, Kondisi tanah merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi penyebaran vegetasi. Ada lima faktor utama dalam formasi tanah : litologi, iklim, topografi, mahluk hidup dalam waktu. Sebagian besar tanah telah di Kalimantan berkembang pada dataran bergelombang dan pegunungan yang tertoreh diatas batuan sedimen dan batuan beku tua.

2. Pengembangan potensi wilayah Kalimantan, karena sebagian besar pegunungan,
Di Kalimantan terdapat potensi beberapa taman nasional sebagai konservasi flora dan fauna dan hutan di pegunungan Muller serta sebagian di Schawner yang ditetapkan sebagai world heritage forest. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri, rotan, damar, dan tengkawang. Kondisi tanah di Kalimantan pada umumnya tidak subur untuk kegiatan usaha pertanian. Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import.

DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia.com
Crayonpedia.com
Google answer
Esdm.gov
Bakorsunatal.com
Bkkbn
Esri
Lipi

PASANGAN HIDUP ANTARA PILIHAN SENDIRI DAN ORANG TUA

oleh:
Imam arifa’illah syaiful huda
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI

 
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya. Rasa cinta bisa menjadi anugerah jika luapkan sesuai dengan bingkai nilai-nilai ilahiyah. Namun, perasaan cinta dapat membawa manusia ke jurang kenistaan bila diumbar demi kesenangan semata dan dikendalikan nafsu liar.
Islam sebagai syariat yang sempurna, memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang baik pria dan wanita tidak asal dapat dalam memilih pasangan untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Masalah jodoh atau pasangan hidup. Sebenarnya siapa yang punya hak untuk menentukan jodoh kita sebagai anak? semua tahu, kalo Allah sudah menentukan jodoh kita tapi Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih, siapa yang akan kita pilih untuk menjadi pasangan hidup kita walaupun pada akhirnya Allah juga yang akan menentukan hasil akhirnya. Jodoh itu misteri Allah, tidak seorangpun yang akan tahu.
Kita hanya bisa berusaha mencari yang terbaik, dalam hal ini tentunya yang terbaik menurut agama, bukan menurut nafsu ataupun keegoisan kita sebagai manusia biasa. Kadang terpikir, kalau memang di berikan “kesempatan” untuk memilih dan menentukan pasangan hidup, kenapa selalu ada saja pihak-pihak yang berusaha “ikut campur” dalam masalah ini. Setiap anak yang menghormati dan berbakti kepada orang tua, tentunya sangat berharap kalau orang tua bisa mengerti dan memberikan kepercayaan kepada mereka sebagai anak untuk memilih pasangan hidup. Saya yakin semua orang tua ingin melihat anaknya bahagia dan tidak ingin melihat mereka hidup sengsara. Banyak orang tua yang tidak menyetujui pilihan sang anak, hanya karena “calon” pasangan hidupnya menurut mereka tidak akan bisa membahagiakan anak mereka. Entah karena “kurang” materi, status sosial ataupun pendidikan yang lebih rendah dari sang anak. Mungkin itu yang terbaik menurut versi pihak orang tua.
Dengan demikian perlunya pembahasan yang mendalam mengenai permasalahan pemilihan pasangan hidup antara anak dan oarang tua. Dalam makalah ini akan mebahas solusi yang di anggap baik dan benar dalam menghadapi permasalahan di atas.


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana seruan Agama Islam dalam memilih pasangan hidup?
1.2.2 Apa kreteria pemilihan pasangan hidup menurut islam?
1.2.3 Seberapa pentingkah restu orang tua bagi kita ?
1.2.4 Apa dampak dari tidak didapatkannya restu orang tua ketika menikah?
1.2.5 Bagaimana solusi supaya tidak terjadi kontraversi antara orang tua dan anak dalam memilih pasangan hidup?
1.2.6 upaya apa yang perlu dilakukan agar kita segera mendapatkan jodoh?

 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Seruan Agama Islam dalam Memilih Pasangan Hidup
• Kita Diseru Untuk Memilih Pasangan Hidup
Firman Allah di dalam surah An-Nisa' ayat 1-4:
بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيم
يٰأَيُّهَا النّاسُ اتَّقوا رَبَّكُمُ الَّذى خَلَقَكُم مِن نَفسٍ وٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنها زَوجَها وَبَثَّ مِنهُما رِجالًا كَثيرًا وَنِساءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذى تَساءَلونَ بِهِ وَالأَرحامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيكُم رَقيبًا
Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) dari diri yang satu (Adam), dan yang menjadikan daripada (Adam) itu pasangannya (isterinya - Hawa), dan juga yang membiakkan dari keduanya - zuriat keturunan - lelaki dan perempuan yang ramai.Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut-yebut namaNya, serta peliharalah hubungan (silaturrahim) kaum kerabat; kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati (mengawas) kamu.
وَءاتُوا اليَتٰمىٰ أَموٰلَهُم ۖ وَلا تَتَبَدَّلُوا الخَبيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلا تَأكُلوا أَموٰلَهُم إِلىٰ أَموٰلِكُم ۚ إِنَّهُ كانَ حوبًا كَبيرًا
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang telah baligh) itu harta mereka, dan janganlah kamu tukar-gantikan yang baik dengan yang buruk; dan janganlah kamu makan harta mereka (dengan menghimpunkannya) dengan harta kamu; kerana sesungguhnya (yang demikian) itu adalah dosa yang besar.
وَإِن خِفتُم أَلّا تُقسِطوا فِى اليَتٰمىٰ فَانكِحوا ما طابَ لَكُم مِنَ النِّساءِ مَثنىٰ وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۖ فَإِن خِفتُم أَلّا تَعدِلوا فَوٰحِدَةً أَو ما مَلَكَت أَيمٰنُكُم ۚ ذٰلِكَ أَدنىٰ أَلّا تَعولوا
Dan jika kamu takut tidak berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (apabila kamu berkahwin dengan mereka), maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan (lain): dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu) maka (berkahwinlah dengan) seorang saja, atau (pakailah) hamba-hamba perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat (untuk mencegah) supaya kamu tidak melakukan kezaliman.
وَءاتُوا النِّساءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحلَةً ۚ فَإِن طِبنَ لَكُم عَن شَيءٍ مِنهُ نَفسًا فَكُلوهُ هَنيـًٔا مَريـًٔا
Dan berikanlah kepada perempuan-perempuan itu maskawin-maskawin mereka sebagai pemberian yang wajib. Kemudian jika mereka dengan suka hatinya memberikan kepada kamu sebagian dari maskawinnya maka makanlah (gunakanlah) pemberian (yang halal) itu sebagai nikmat yang lazat, lagi baik kesudahannya.
Perintah Allah agar kita memilih jodoh masing-masing dan berkawin demi mencari keridhaan-Nya dikuatkan lagi oleh hadis ini:
"Wanita itu dikawini kerana empat perkara: kerana hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya, kerana agamanya. Maka pilihlah agamanya..."
2.2 Kreteria Pemilihan Pasangan Hidup Menurut Islam
Dalam menentukan kriteria calon pasangan, Islam memberikan dua sisi yang perlu diperhatikan.Pertama, sisi yang terkait dengan agama, nasab, harta, maupun kecantikan. Kedua, sisi lain yang lebih terkait dengan selera pribadi, seperti masalah suku, status sosial, corak pemikiran, kepribadian, serta hal-hal yang terkait dengan masalah fisik, termasuk masalah kesehatan dan seterusnya.
a. Masalah yang Pertama
Masalah yang pertama adalah masalah yang terkait dengan standar umum.Yaitu masalah agama, keturunan, harta, dan kecantikan.Masalah ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW dalam haditsnya yang cukup masyhur.Dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah SAWbersabda,”Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya, dan kecantikannya. Perhatikanlah agamanya, maka kamu akan selamat.” (HR. Bukhari, Muslim).Khusus masalah agama, Rasulullah SAW memang memberikan penekanan yang lebih, sebab memilih wanita yang sisi keagamaannya sudah matang jauh lebih menguntungkan ketimbang istri yang kemampuan agamanya masih setengah-setengah. Sebab, dengan kondisi yang masih setengah-setengah itu, berarti suami masih harus bekerja ekstra keras untuk mendidiknya. Itupun kalau suami punya kemampuan agama yang lebih.Tetapi kalau kemampuannya pas-pasan, maka mau tidak mau suami harus ‘menyekolahkan’ kembali istrinya agar memiliki kemampuan dari sisi agama yang baik.Tentu saja yang dimaksud dengan sisi keagamaan bukan berhenti pada luasnya pemahaman agama atau fikrah saja, tetapi juga mencakup sisi kerohaniannya (ruhiyah) yang idealnya adalah tipe seorang yang punya hubungan kuat dengan Allah SWT. Secara rinci bisa dicontohkan antara lain :
 Aqidahnya kuat
 Ibadahnya rajin.
 Akhlaqnya mulia
 Pakaiannya dan dandanannya memenuhi standar busana muslimah
 Menjaga kohormatan dirinya dengan tidak bercampur baur dan ikhtilath dengan lawan jenis yang bukan mahram
 Tidak bepergian tanpa mahram atau pulang larut malam
 Fasih membaca Al-Qur’an Al-Karim
 Ilmu pengetahuan agamanya mendalam
 Aktifitas hariannya mencerminkan wanita shalilhah
 Berbakti kepada orangtuanya serta rukun dengan saudaranya
 Pandai menjaga lisannya.
 Pandai mengatur waktunya serta selalu menjaga amanah yang diberikan kepadanya
 Selalu menjaga diri dari dosa-dosa meskipun kecil
 Pemahaman syari’ahnya tidak terbata-bata
 Berhusnuzhan kepada orang lain, ramah, dan simpatik.
Sedangkan dari sisi nasab atau keturunan, merupakan anjuran bagi seorang muslim untuk memilih wanita yang berasal dari keluarga yang taat beragama, baik status sosialnya, dan terpandang di tengah masyarakat. Dengan mendapatkan istri dari nasab yang baik itu, diharapkan nantinya akan lahir keturunan yang baik pula. Sebab, mendapatkan keturunan yang baik itu memang bagian dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan di dalam Al-Qur’an Al-Karim.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa : 9).
Sebaliknya, bila istri berasal dari keturunan yang kurang baik nasab keluarga, seperti kalangan penjahat, pemabuk, atau keluarga yang pecah berantakan, maka semua itu sedikit banyak akan berpengaruh kepada jiwa dan kepribadian istri. Padahal nantinya peranan istri adalah menjadi pendidik bagi anak. Apa yang dirasakan oleh seorang ibu pastilah akan langsung tercetak begitu saja kepada anak.
Pertimbangan memilih istri dari keturunan yang baik ini bukan berarti menjatuhkan vonis untuk mengharamkan menikah dengan wanita yang kebetulan keluarganya kurang baik. Sebab, bukan hal yang mustahil bahwa sebuah keluarga akan kembali ke jalan Islam yang terang dan baik. Namun masalahnya adalah pada seberapa jauh keburukan nasab keluarga itu akan berpengaruh kepada calon istri. Selain itu juga pada status kurang baik yang akan tetap disandang terus di tengah masyarakat yang pada kasus tertentu sulit dihilangkan begitu saja. Tidak jarang butuh waktu yang lama untuk menghilangkan cap yang terlanjur diberikan masyarakat.
Maka bila masih ada pilihan lain yang lebih baik dari sisi keturunan, seseorang berhak untuk memilih istri yang secara garis keturunan lebih baik nasabnya.

b. Masalah yang Kedua
Masalah kedua terkait dengan selera subjektif seseorang terhadap calon pasangan hidupnya. Sebenarnya hal ini bukan termasuk hal yang wajib diperhatikan, namun Islam memberikan hak kepada seseorang untuk memilih pasangan hidup berdasarkan subjektifitas selera setiap individu maupun keluarga dan lingkungannya. Intinya, meskipun dari sisi yang pertama tadi sudah dianggap cukup, bukan berarti dari sisi yang kedua bisa langsung sesuai.Sebab masalah selera subjektif adalah hal yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Karena terkait dengan hak setiap individu dan hubungannya dengan orang lain.Sebagai contoh adalah kecenderungan dasar yang ada pada tiap masyarakat untuk menikah dengan orang yang sama sukunya atau sama rasnya. Kecenderungan ini tidak ada kaitannya dengan masalah fanatisme darah dan warna kulit, melainkan sudah menjadi bagian dari kecenderungan umum di sepanjang zaman. Dan Islam bisa menerima kecenderungan ini meski tidak juga menghidup-hidupkannya. Sebab bila sebuah rumah tangga didirikan dari dua orang yang berangkat dari latar belakang budaya yang berbeda, meski masih seagama, tetap saja akan timbul hal-hal yang secara watak dan karakter sulit dihilangkan.
Contoh lainnya adalah selera seseorang untuk mendapatkan pasangan yang punya karakter dan sifat tertentu. Ini merupakan keinginan yang wajar dan patut dihargai. Misalnya seorang wanita menginginkan punya suami yang lembut atau yang macho, merupakan bagian dari selera seseorang. Atau sebaliknya, seorang laki-laki menginginkan punya istri yang bertipe wanita pekerja atau yang tipe ibu rumah tangga. Ini juga merupakan selera masing-masing orang yang menjadi haknya dalam memilih. Islam memberikan hak ini sepenuhnya dan dalam batas yang wajar dan manusiawi memang merupakan sebuah realitas yang tidak terhindarkan.



• Melihat Langsung Calon yang Terpilih
Seorang muslim apabila berkehendak untuk menikah dan mengarahkan niatnya untuk meminang seorang perempuan tertentu, diperbolehkan melihat perempuan tersebut sebelum ia mulai melangkah ke jenjang perkawinan, supaya dia dapat menghadapi perkawinannya itu dengan jelas dan terang, dan supaya tidak tertipu. Sehingga dengan demikian, dia akan dapat selamat dari berbuat salah dan jatuh ke dalam sesuatu yang tidak diinginkan.
Ini adalah justru karena mata merupakan duta hati dan kemungkinan besar bertemunya mata dengan mata itu menjadi sebab dapat bertemunya hati dan berlarutnya jiwa.
Dari Abu Hurairah RA berkata, “Saya pernah di tempat kediaman Nabi, kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki datang memberitahu, bahwa dia akan kawin dengan seorang perempuan dari Anshar, maka Nabi bertanya, ‘Sudahkah kau lihat dia?’Ia mengatakan, ‘Belum!’ Kemudian Nabi mengatakan, ‘Pergilah dan lihatlah dia, karena dalam mata orang-orang Anshar itu ada sesuatu.’” (Riwayat Muslim).
Dari Mughirah bin Syu’bah bahwa dia pernah meminang seorang perempuan. Kemudian Nabi SAW mengatakan kepadanya, “Lihatlah dia!Karena melihat itu lebih dapat menjamin untuk mengekalkan kamu berdua.” Kemudian Mughirah pergi kepada dua orangtua perempuan tersebut, dan memberitahukan apa yang diomongkan di atas, tetapi tampaknya kedua orangtuanya itu tidak suka. Si perempuan tersebut mendengar dari dalam biliknya, kemudian ia mengatakan, ‘Kalau Rasulullah menyuruh kamu supaya melihat aku, maka lihatlah.’ Kata Mughirah, ‘Saya lantas melihatnya dan kemudian mengawininya.’” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Tarmizi dan ad-Darimi).
Dalam hadits ini Rasulullah tidak menentukan batas ukuran yang boleh dilihat, baik kepada Mughirah maupun kepada lain-lainnya. Justru itu sebagian ulama ada yang berpendapat, yang boleh dilihat yaitu muka dan dua tapak tangan, tetapi muka dan dua tapak tangan yang boleh dilihat itu tidak ada syahwat pada waktu tidak bermaksud meminang. Dan selama peminangan itu dikecualikan, maka sudah seharusnya si laki-laki tersebut boleh melihat lebih banyak dari hal-hal yang biasa. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda dalam salah satu haditsnya, “Apabila salah seorang di antara kamu hendak meminang seorang perempuan, kemudian dia dapat melihat sebagian apa yang kiranya dapat menarik untuk mengawininya, maka kerjakanlah.” (Riwayat Abu Daud).
• Batasan untuk Melihat
Sementara ulama ada yang sangat ekstrim dalam memberikan kebebasan batas yang boleh dilihat, dan sementara ada juga yang ekstrim dengan mempersempit dan keras. Tetapi yang lebih baik ialah tengah-tengah. Justru itu sebagian ahli penyelidik memberikan batas, bahwa seorang laki-laki di zaman kita sekarang ini boleh melihat perempuan yang hendak dipinang dengan berpakaian yang boleh dilihat oleh ayah dan mahram-mahramnya yang lain.
Selanjutnya mereka berkata, bahwa si laki-laki itu boleh pergi bersama wanita tersebut dengan syarat disertai oleh ayah atau salah seorang mahramnya dengan pakaian menurut ukuran syara’ ke tempat yang boleh dikunjungi untuk mengetahui kecerdikannya, perasaannya, dan kepribadiannya. Semua ini termasuk kata sebagian yang disebut dalam hadits Nabi di atas yang mengatakan, “… Kemudian dia dapat melihat sebagian apa yang kiranya dapat menarik dia untuk mengawininya.”
Dibolehkan juga si laki-laki melihat perempuan dengan sepengetahuan keluarganya; atau samasekali tidak sepengetahuan dia atau keluarganya, selama melihatnya itu bertujuan untuk meminang. Seperti apa yang dikatakan Jabir bin Abdullah tentang isterinya, “Saya bersembunyi di balik pohon untuk melihat dia.”
Bahkan dari hadits Mughirah di atas, kita tahu bahwa seorang ayah tidak boleh menghalang-halangi anak gadisnya untuk dilihat oleh orang yang berminat hendak meminang dengan dalih tradisi. Sebab yang harus diikuti ialah tradisi agama, bukan agama harus mengikuti tradisi manusia.
Namun di balik itu, seorang ayah dan laki-laki yang hendak meminang maupun perempuan yang hendak dipinang, tidak diperkenankan memperluas mahramnya, seperti yang biasa dilakukan oleh penggemar-penggemar kebudayaan Barat dan tradisi-tradisi Barat. Ekstrimis kanan maupun kiri adalah suatu hal yang amat ditentang oleh jiwa Islam.

2.3 Pentingnya Restu Orang Tua
Seberapa pentingnya peran orang tua dalam setiap langkah yang kita lakukan. Tentu kita tidak bisa memungkiri bahwa keberadaan kita sekarang pun adalah karena orang tua juga. Dari mulai di dalam kandungan, orang tua telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Mereka menjadi sebuah tonggak kehidupan kita. Orang tua telah memberikan ”separuh nafasnya” untuk kehidupan kita, mereka juga yang memberikan ”sebelah nyawanya” untuk kehidupan kita. Mereka yang rela bertaruh apapun yang mereka miliki hanya untuk kita, termasuk nyawanya sekalipun.
Jika kita menjalin hubungan dengan lawan jenis dan entah karena alasan apa, orang tua kita tidak memberikan celah untuk hubungan itu. Apakah kita harus lari dari orang tua kita, demi mengejar cinta kita ataukah harus setia mengabdi pada orang tua kita yang telah membesarkan kita ??
Pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Hal ini bagaikan sebuah dilema bagi kita. Sebagai seorang anak yang memiliki cinta, tentu kita akan berusaha untuk mengejar cinta kita dan memperjuangkannya sampai kita benar-benar tidak dapat lagi untuk itu. Tapi naluri sebagai orang tua juga tak bisa berhenti berfikir, bayangkan jika hal tersebut terjadi pada anak kita sendiri, andaikan kita menjadi orang tua. Tentu kita sebagai orang tua akan sangat terluka dan kecewa kalau buah hati kita memilih jalan lari hanya demi kepuasannya.
Seperti contoh, bahwa sebagai anak hanya terbebani tanggung jawab atas diri sendiri, tapi setelah ”naik kelas” 1 tingkat dari status kita sebagi anak, yaitu sebagai orang tua, maka tanggung jawab kita pun ”naik kelas” 1 tingkat. Kita juga punya tanggung jawab terhadap kebutuhan fisik mereka, namun juga kebutuhan batiniah mereka. Salah satunya seperti hal diatas. Jika anak menghadapi masalah seperti masalah di atas, maka sebagai orang tua lah yang nantinya akan menjadi ”tumbal” tangung jawab atas apapun keputusan yang anak-anak ambil. Maka itu, jadilah anak yang bijak dalam mengambil setiap kaputusan dalam hidup, terutama keputusan yang sangat besar, yang nantinya akan ”menyeret” orang tua ke dalam pertanggung jawaban di kemudian hari.
Seberapa pentingkah restu orang tua bagi kita? Restu orang tua adalah hal yang sangat penting. Tanpa orang tua mungkin bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Meskipun kadang-kadang terjadi sedikit perbedaan antara anak dan orang tua, itu adalah hal yang wajar, karena manusia itu pada dasarnya tidak ada yang benar-benar cocok. Senakal apapun anak, sesungguhnya orang tua tidak akan membenci anak sampai kapanpun. Kasih sayang orang tua tidaklah terbatas. Dan kita percaya itu.
Sudah terbukti kasih sayang orang tua tidaklah sebanding dengan kasih sayang manusia manapun. Ada kalanya sikap anak yang labil waktu masih muda, sering menentang apa yang orang tua katakan, tapi sadarilah orang tua juga pernah muda, terkadang beliau-beliau melarang akan sesuatu hal, itu pasti demi kebaikan anak. Coba fikirkan baik-baik, misalnya orang tua melarang pulang malam (bagi anak perempuan), kenapa?itu karena orang tua khawatir terjadi apa-apa di jalan. Bukan mereka tidak mengeti kondisi anak tapi karena mereka sayang. Mereka peduli. Suatu saat seorang pun akan menjadi orang tua akan merasakan hal yang sama dengan orang tua kita saat ini.
Anak-anak sering sekali dimarahi orang tua dan berusaha melawan perkataan orang tua karena tahu bahwa mereka marah itu karena ada sikap yang salah dan berusaha meluruskan sikap anak agar lebih baik. Senakal-nakalnya seorang anak, tidak ada orang tua yang rela meninggalkan anaknya. Coba bandingkan dengan suami, pacar, teman atau sahabat, mereka akan meninggalkan saat mereka merasa tidak nyaman lagi.
Kita harusnya sangat bersyukur karena orang tua kita sangat perhatian dengan anak-anaknya. Kelak suatu hari nanti kita ingin punya pasangan yang sayang dengan orang tua kita. Ingatlah bahwa restu orang tua adalah restu Sang Pencipta. Doa orang tua adalah doa yang paling mujarab untuk keberhasilan kita. Kejam dan sekeras apapun orang tua kita, jangan pernah membenci. Karena beliau-beliaulah kita hadir di dunia ini, kita tidak bisa jadi sekarang ini. Berbaktilah terhadap orang tua mu semasa masih ada, janga sampai kita menyesal dikemudian hari tidak bisa berbakti. Karena bagaimanapun kasih sayang orang tua tak terhingga nilainya.
2.4 Akibat dari Tidak Didapatkannya Restu Orang Tua Ketika Menikah
Sebuah pernikahan dianggap sah secara agama apabila syarat dan rukunnya telah terpenuhi, yaitu wali, dua orang saksi, serta calon suami dan istri. Dalam hukum negara, persyaratan itu ditambah dengan pencatatan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA). Wali dan dua orang saksi disyaratkan harus beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan laki-laki.
Apabila sebuah pernikahan tidak memenuhi syarat dan rukun itu tidak terpenuhi, maka dinyatakan tidak sah. Lalu, bagaimana dengan pernikahan yang tidak mendapat restu dari orangtua? Pada dasarnya, jika sudah memenuhi syarat dan rukun, pernikahan dianggap sah. Namun yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah dampak positif dan negatif setelah pernikahan itu.
Kalau kita memperhatikan firman Allah SWT dan hadis rasulullah SAW, tidak ada yang menerangkan tentang kesuksesan dan keberhasilan seseorang tanpa restu (ridlo) dari kedua orangtua. Semuanya menerangkan kewajiban taat dan hormat kepada orangtua, yang akan menghantarkan kesuksesan kita dunia dan akhirat.
Hal itu bisa dilihat dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 23 yang artinya, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".
Dalam sebuah hadis, diriwayatkan ada seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, "Perbuatan mana yang paling dicintai oleh Allah SWT?" Rasulullah menjawab, "Sholat pada waktunya."Lalu apa, ya Rasul?"Rasul menjawab, "birrul walidain (berbuat baik pada kedua orang tua)"."Lalu, apalagi?" Jawab Rasul, "berjuang di jalan Allah SWT." (H.R. Al-Bukhari).
Senada dengan hadis tersebut seorang sahabat pernah bertanya pada Rasulullah SAW tentang dosa besar. Jawab Rasul, "menyekutukan Allah SWT, uququl walidain (menentang kedua orangtua)". (H.R. Al-Bukhari)
Menurut sahabat Ibn Abbas, ada tiga hal yang tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaannya, yaitu (1) taat kepada Allah dan Rasulnya (2) mendirikan sholat dan berzakat (3) bersyukur kepada Allah SWT dan kedua orangtua.
Ayat dan hadis di atas menunjukkan begitu pentingnya taat kepada kedua orangtua, serta menunjukkan bahwa kedudukan orangtua sangat tingi di hadapan Allah SWT. Bahkan secara tegas Rasulullah SAW bersabda, "Ridlallah fi ridla al-walidaini wa sukhtullah fi sukht al-walidaini (Ridlanya Allah tergantung ridlanya kedua orangtua serta murkanya Allah tergantung Murka kedua orangtua)" (HR. At-Tirmidzi).
Pernikahan yang tidak mendapat restu/ ridlo dari kedua orangtua, akan menuai kesulitan dalam kehidupan. Restu orang tua adalah segala-galanya bagi sang anak. Kalau orangtua tidak merestui namun seorang anak tetap memaksa, itu berarti telah membuat susah hati orang tua. Kalau seorang anak membuat susah hati kedua orang tua, berarti seorang anak termasuk durhaka kepada kedua orangtua.
Sahabat Ali bin Abi Tholib pernah bertanya tentang kriteria durhaka kepada kedua orangtua, Rasulullah menjawab, "barang siapa yang membuat susah hati kedua orangtua berarti berani (durhaka) kepada mereka". Kalau sudah berani pada kedua orangtua, jangan harap mendapatkan kesuksesan dunia maupun akhirat.
Diriwayatkan, sahabat Alqomah dalam akhir hayatnya kesulitan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum mendapatkan ampunan dari ibunya. Allah akhirnya memuluskan jalannya menjemput maut saat ia telah mendapat maaf dari sang ibu.
Dalam hadis juga disebutkan "setiap dosa azabnya akan diakhirkan oleh Allah SWT sampai hari kiamat kecuali orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya (HR. Ibn Majah)
Sosok orang tua,hendaknya mempertimbangkan atas larangan menikah anaknya yang sudah saling cinta. Jika orangtua terlalu mengekang, dikhawatirkan justru mereka memberontak, dan terjadilah perzinahan. Karena jika terjadi perzinahan maka orang tua pun ikut menanggung dosanya, paling tidak malu di tengah-tengah masyarakat. Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an surat at-Tahrim ayat 6 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
2.5 Solusi supaya tidak terjadi kontravensi antara orang tua dan anak dalam memilih pasangan hidup.
“Setiap anak adam itu banyak salahnya, dan sebaik-baik orang yang banyak salahnya itu mereka yang banyak taubatnya”. (HR. Tirmidzi: 2499, dan di-hasan-kan oleh Al Albani)
Kedua: Jangan kita lupakan pula, bahwa kita terlahir di dunia, -dari bayi yang tidak tahu apa-apa, hingga dewasa sehingga kaya ilmu-, adalah atas jasa orang tua kita. Oleh karena itulah Islam sangat menekankan masalah berbakti kepada orang tua, membahagiakan mereka, dan tidak durhaka pada mereka. Bahkan Nabi -Shallallahu’Alaihi Wasallam- bersabda:“Keridhaan Allah itu terletak pada keridhaan kedua orang tua, dan (sebaliknya) kemurkaaan Allah (juga) terletak pada kemurkaan kedua orang tua“.
Apalagi, kita juga nantinya akan menjadi orang tua bagi anak-anak kita, bukankah ketika itu, kita juga ingin agar anak kita berbakti pada kita, membahagiakan kita, dan tidak mendurhakai kita?! Jika kita nantinya ingin seperti ini, maka hendaklah sekarang kita melakukannya untuk orang tua kita, karena balasan sesuatu itu sesuai dengan amalan yang kita lakukan. (fal jaza’u min jinsil amal)
Ketiga: Islam sangatlah menghormati wanita, dan melindunginya dari segala sesuatu yang merugikan dan membahayakannya. Oleh karena itulah, ia tidak boleh menikah kecuali dengan izin dari walinya, sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu’alaihi Wasallam-:
“Siapapun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal (tidak sah)”
Keempat: Keputusan menikah adalah keputusan yang sangat besar dalam perjalanan hidup seorang anak, dan konsekuensinya akan anak rasakan seumur hidup. Oleh karena itu, hendaklah ekstra hati-hati dalam menghadapi masalah. Bertukar pendapatlah dengan orang yang paling berhak dijadikan rujukan, yakni orang tua kita. Biasanya mereka lebih jernih dalam melihat keadaan dari pada kita, karena mereka lebih pengalaman dalam mengarungi kehidupan, dan lebih matang pikirannya. Tentunya keputusan yang diambil dari kesepakatan antara kita dengan mereka, itu lebih baik dan lebih matang dari pada keputusan dari satu pihak saja.
Ditambah lagi, jika kita menjalani suatu keputusan atas restu dari orang tua, tentunya mereka akan selalu mendoakan kebaikan bagi kita, dan tidak diragukan lagi, doa mereka akan sangat mustajab dan menjadikan hidup kita penuh berkah, tentram, dan bahagia dunia akhirat.
Kelima: Cobalah membayangkan jika kita berada di posisi orang tua, mungkin seorang anak juga akan mengambil langkah yang sama. Karena seringkali orang tua lebih menghargai anaknya, dari pada kita sendiri. Oleh karena itu, mungkin orang tua merasa tidak pantas anaknya mendapatkan orang yang kurang memenuhi standar dalam pandangannya. Disinilah pentingnya komunikasi, tukar pendapat, dan saling memberi informasi.
Keenam: Ingat pula sabda Nabi -Shallallahu alaihi Wasallam- tentang pentingnya agama calon kita, tentunya orang yang agamanya kuat, lebih kita dahulukan dari pada orang yang agamanya lemah, karena orang yang agamanya kuat, akan lebih mengetahui hak dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga.
Ketujuh: solusi berikut bisa menjadi alternatif dalam penyelesaian:
• Adakan komunikasi yang lebih baik dan lebih terbuka dengan orang tua.
• Jelaskan alasan yang mendasari langkah, dan kelebihan yang ada pada pilihan.
• Jelaskan kerugian yang timbul, jika meninggalkan pilihan.
• Jika satu kesempatan tidak cukup, teruslah komunikasi dalam kesempatan-kesempatan lainnya.
• Mungkin orang tua ada pandangan lain, cobalah untuk menjajakinya
• Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Alloh, terutama ketika sujud dalam sholat, dan ketika sepertiga malam terakhir, agar dimudahkan urusan, dan diberikan solusi terbaik.
• Jangan lupa juga untuk sholat istikhoroh, dan memohon petunjuk Alloh,
Ingatlah selalu dan jangan sampai lupa, bahwa langkah untuk menikah adalah langkah besar dalam kehidupan. Oleh karena itu, jangan sampai melangkah, kecuali semuanya sudah clear, serta orang tua setuju dan merestui langkah besar ini.


2.6 Upaya yang Perlu Dilakukan Agar Kita Segera Mendapatkan Jodoh
Allah SWT mempunyai tiga pilihan dalam menjodohkan manusia satu sama lain. Pilihan pertama adalah cepat mendapatkan jodoh. Pilihan kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu ketika pasti mendapatkannya di dunia. Pilihan ketiga adalah menunda mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak (di dunia kita tidak mendapatkan jodoh). Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah, maka hal itu adalah hal yang terbaik untuk kita. Allah SWT berfirman : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. 2 : 216).
Lalu upaya apa yang perlu dilakukan agar kita segera mendapatkan jodoh? Beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu :
1. Memperbaiki diri.
Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang sholih, maka kita harus menjadi orang yang sholihah juga. Itulah maksud Allah dalam firman-Nya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. 24 : 26).
Memperbaiki diri disini pengertiannya ada dua, lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah kita perlu menjadi orang yang bersih, rapi dan menjaga bau badan. Tidak perlu berdandan yang berlebihan (tidak Islami), tapi perlu kelihatan sebagai orang yang menarik. Sebagian orang yang ingin menikah sangat berharap mendapatkan jodoh yang sholih, tapi ia sendiri orang yang salah (tidak sholih). Ini ibarat pungguk merindukan bulan.

2. Tidak putus asa berdoa.
Jangan pernah berputus asa untuk berdoa. Doa yang baik untuk mendapatkan jodoh adalah doa yang terdapat dalam surah Al Furqon ayat 74 : “Ya Rob kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Agar doa lebih terkabul, perhatikan juga adab-adab berdoa dalam Islam. Jadi jangan berdoa menurut versi kita sendiri. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, niscaya doa kita akan lebih terkabul.

3. Ibadah sunnah diperbanyak.
Agar jodoh kita semakin cepat datang, kita juga perlu mendekati Allah dengan ekstra dekat. Caranya tidak hanya mengandalkan ibadah wajib, tapi juga dengan menambah ibadah-ibadah sunnah (nawafil), seperti sholat tahajjud, sholat dhuha, shaum, tilawah Al Qur’an, infaq, dan lain-lain. Lakukan ibadah sunnah ini secara rutin setiap hari agar iman kita bertambah dan do’a kita semakin dikabulkan Allah SWT.

4. Memiliki kriteria yang tidak muluk.
Mengapa jodoh sulit datang kepada kita? Salah satunya mungkin disebabkan karena kriteria jodoh kita terlalu muluk. Kita ingin jodoh yang mapan, ganteng/cantik, berpangkat, keturunan baik-baik dan beriman. Keinginan semacam itu sah-sah saja, tapi jika hal tersebut dijadikan syarat untuk jodoh kita maka kita telah mempersulit diri sendiri. Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan jika kita tidak dapat memperoleh semuanya, maka pilihlah yang agamanya paling baik. Hal itu berarti mungkin saja jodoh kita orang yang miskin, tidak berpangkat, bukan keturunan orang baik, akan tetapi kita perlu menerimanya asalkan memiliki agama/akhlaq yang baik. Jangan kita menginginkan kesempurnaan dari orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.

5. Memperluas pergaulan.
Cara yang lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah memperluas pergaulan. Dengan pergaulan yang luas kita juga lebih banyak mendapatkan pilihan. Seringkali jodoh itu datang bukan dari perkenalan langsung, tapi dari kenalan teman kita. Bahkan dari kenalan dari kenalan teman kita. Itulah gunanya pergaulan yang luas. Ibarat seorang nelayan yang menebarkan jaringan yang luas untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak.

6. Meminta tolong orang lain.
Cara lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah meminta tolong kepada orang lain yang reputasinya baik. Orang tersebut bisa saja guru mengaji, murobbi, teman, orang tua, saudara, dan lain-lain. Jangan malu-malu untuk meminta bantuan kepada mereka dan jangan malu-malu juga untuk mengulangi permintaan kita secara rutin agar orang tersebut ingat bahwa kita meminta bantuan kepadanya.

7. Menyatakan hasrat secara langsung.
Bisa juga seorang wanita mendapatkan jodoh dengan cara menyatakan langsung kepada lelaki yang kita taksir bahwa kita siap menikah dengannya. Ini adalah cara yang masih asing dalam budaya Indonesia. Namun cara ini sebenarnya Islami, karena pernah dilakukan Khadijah ra kepada Nabi Muhammad saw. Khadijah ra yang lebih dahulu menyatakan hasratnya kepada Nabi melalui perantaranya. Menurut saya, cara ini perlu dimasyarakatkan di Indonesia, sehingga tidak ada lagi wanita yang malu-malu kucing, padahal hatinya sudah ingin sekali dilamar oleh lelaki yang diharapkannya.

 
BAB III
KESIMPULAN
1. Manusia diberi kesempatan memilih pasangan hidup namun pada akhirnya Allah lah yang menentukan, karena Allah yang lebih tahu yang terbaik untuk makhluknya
2. Dalam islam ada kriteria memilih pasangan hidup yaitu harta, nasab, kecantikan dan agama. Namun dalam kriteria ini yang paling diutamakan adalah agamanya
3. Restu dari kedua orang tua sangat penting dalam pernikahan karena ridho orang tua juga ridho Allah. Jika orang tua meridhoi pernikahan kita insyaallah rumah tangga kita senantiasa diberi kebahagiaan.
4. Karena ridho orang tua adalah ridho Allah juga. jika sebuah pernikahan tidak direstui kedua orang tua maka rumah tangga pengantin tersebut akan sulit mendapat kebahagiaan dan mungkin akan mendapatkan malapetaka.
5. Untuk mendapatkan restu dari orang tua seharusnya seorang calon pengantin lebih sering berkomunikasi dengan orang tuanya dan menjelaskan tetang pilihannya tersebut.
6. Agar cepat mendapatkan jodoh ada beberapa upaya yaitu rajin berdo’a, menjadi lebih baik, rajin ibadah sunnah, kriteriany tidak muluk, memperluas pergaulan, meminta bantuan orang lain atau memintanya secara langsung kepada yang bersangkutan.
 
DAFTAR PUSTAKA

http://www.itikbali.com/2010/10/jodoh-pilihan-ortu.html (19,1,12 -9:06)
http://mind.donnyreza.net/takdir-rezeki-jodoh-dan-kematian/
http://anugerah.hendra.or.id/category/pra-nikah/
http://syamsuri149.wordpress.com/amalandoa/
http://mtks.kotasantri.com/?mtks=artikel&mode=detil&artikel=Pra_Nikah/2001.html
Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc.
Artikel UstadzKholid.Com
http://penjagaquran.blogspot.com/2011/01/hukum-pernikahan-tanpa-restu-orang-tua.html
http://cheahmad.blogspot.com/2009/08/jodoh-itu-ketentuan-tuhan-artikel.html

PENGARUH BUDAYA DAN AGAMA DALAM MENINGKATKAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Oleh:
Imam Arifa’illah Syaiful Huda


1.Pendahuluan
Krisis lingkungan hutan atau degradasi hutan merupakan salah satu persoalan lingkungan yang saat ini semakin banyak mendapatkan perhatian. Degradasi hutan ini terjadi sebagai akibat dari aktivitas-aktivitas manusia yang sering kali mengeksploitasi hutan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya tanpa memperhatikan daya dukung dan keberlanjutannya, seperti aktivitas pembakaran hutan dan illegal loging. Di samping itu, berbagai bentuk kebijakan pembangunan ekonomi yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai belahan dunia juga tidak jarang harus mengorbankan kelestarian hutan. Dalam konteks Indonesia, kebijakan pembukaan 14.000 hektar kawasan hutan untuk pertambangan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Provinsi Gorontalo oleh pemerintah merupakan salah satu bukti nyata. Di sisi lain, degradari hutan juga diakibatkan oleh pembukaan kawasan hutan untuk lahan pertanian dan pemukiman penduduk sebagai akibat populasi manusia yang terus meningkat juga masih terjadi. Susilo (2009: 72) menyatakan bahwa sebesar 42% dari luas dunia telah rusak dengan tanpa bisa diperbaiki kembali. Sementara itu, Iskandar (dalam Susilo, 2009: 72) manyatakan bahwa menurut Laporan World Bank disebabkan 35 tahun terjadi deforestasi, hutan Indonesia tinggal 57 hektar dan hanya 15% di antaranya terletak di dataran rendah, sisanya di lapangan yang sulit dijangkau dan kawasan payau alluvial.
Keberadaan hutan sesungguhnya sangat menguntungkan bagi kelangsungan hidup manusia. Hutan yang sering disebut sebagai paru-paru dunia memiliki fungsi-fungsi antara lain sebagai penyimpan cadangan air bersih, mencegah dan membatasi banjir, mencegah erosi, memelihara kesuburan tanah, menghasilkan oksigen dan mengurangi polusi udara, menjaga kestabilan iklim, serta fungsi-fungsi lainnya yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Namun dewasa ini, aktivitas-aktivitas eksploitasi hutan dan sumber daya hutan yang dilakukan manusia dengan tanpa mempetimbangkan daya dukung dan keberlanjutan lingkungan hutan telah menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi tersebut. Peristiwa bencana banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember pada tahun 2006 dan 2011 dan peristiwa bencana banjir bandang yang terjadi di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat pada 4 Oktober 2010 merupakan beberapa contoh bencana yang timbul terkait adanya degradasi hutan.
Di samping itu, isu global mengenai adanya perubahan iklim global juga dinilai memiliki kaitan erat dengan aspek kelestarian hutan. Perubahan iklim global tersebut menimbulkan suatu tantangan yang sangat rumit bagi kemanusiaan dan berdampak pada pola-pola kerentanan dan bahaya. Terkait dengan perubahan iklim global ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (dalam Pambudy, 2011) menyatakan bahwa 65 persen kejadian bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, yaitu berhubungan dengan curah hujan dan iklim, berupa banjir, longsor, angin topan, serta pasang dan gelombang laut.
Berbeda dengan perilaku manusia yang sering kali mengeksploitasi hutan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya dengan tanpa memperhatikan daya dukung dan keberlanjutannya, di sisi lain masih terdapat masyarakat-masyarakat tradisional dengan kearifan lokalnya yang dinilai mampu memanfaatkan dan mengelola lingkungan hutan secara arif dan berkelanjutan. Nurjaya (2009) menyatakan bahwa temuan dari penelitian-penelitian antropologis mengenai pengelolaan sumber daya hutan oleh masyarakat lokal di negara-negara Asia dan Amerika Latin membuktikan bahwa masyarakat asli (indigenous people) memiliki kapasitas budaya, sistem pengetahuan dan teknologi, religi, tradisi, serta modal sosial seperti etika dan kearifan lingkungan, norma-norma dan institusi hukum untuk mengelola sumber daya alam secara bijaksana dan berkelanjutan. Salah satu contoh dari masyarakat tersebut adalah masyarakat di desa adat Tenganan Pegringsingan yang berada di Kecamatan Maggis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.
Berkat kearifan lokal dalam pengelolaan kawasan hutan serta komitmen kuat untuk memelihara dan menjaga lingkungan hutan sebagai sistem penyangga kehidupan, masyarakat desa adat Tenganan Pegringsingan memperoleh penghargaan Kalpataru untuk kategori penyelamat lingkungan tahun 1989. Lebih dari itu, lestarinya hutan juga telah menjauhkan mereka dari bencana. Hal ini mengingat letak desa adat Tenganan Pegringsingan yang berada di lembah, yang dikepung oleh tiga bukit sudah tentu sangat rentan terhadap bencana, seperti banjir dan tanah longsor. Berdasarkan latar belakang di atas, maka judul “Kearifan lokal masyarakat desa adat Tenganan Pegringsingan dalam pelesarian lingkungan hutan” patut diangkat dalam kajian kali ini.
2. Tinjauan Lingkungan Hidup
 Bentuk-Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup dan Faktor Penyebabnya
Lingkungan hidup mempunyai keterbatasan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya. Dengan kata lain, lingkungan hidup dapat mengalami penurunan kualitas dan penurunan kuantitas. Penurunan kualitas dan kuantitas lingkungan ini menyebabkan kondisi lingkungan kurang atau tidak dapat berfungsi lagi untuk mendukung kehidupan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Kerusakan lingkungan hidup dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan penyebabnya, kerusakan lingkungan dapat dikarenakan proses alam dan karena aktivitas manusia.
1.Lingkungan Akibat Proses Alam
Kerusakan lingkungan hidup oleh alam terjadi karena adanya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat sehingga memengaruhi keseimbangan lingkungan hidup. Peristiwa-peristiwa alam yang dapat memengaruhi kerusakan lingkungan, antara lain meliputi hal-hal berikut ini.
a. Letusan Gunung Api
Letusan gunung api dapat menyemburkan lava, lahar, material-material padat berbagai bentuk dan ukuran, uap panas, serta debu-debu vulkanis. Selain itu, letusan gunung api selalu disertai dengan adanya gempa bumi lokal yang disebut dengan gempa vulkanik. Aliran lava dan uap panas dapat mematikan semua bentuk kehidupan yang dilaluinya, sedangkan aliran lahar dingin dapat menghanyutkan lapisan permukaan tanah dan menimbulkan longsor lahan. Uap belerang yang keluar dari pori-pori tanah dapat mencemari tanah dan air karena dapat meningkatkan kadar asam air dan tanah. Debu-debu vulkanis sangat berbahaya bila terhirup oleh makhluk hidup (khususnya manusia dan hewan), hal ini dikarenakan debu-debu vulkanis mengandung kadar silika (Si) yang sangat tinggi, sedangkan debu-debu vulkanis yang menempel di dedaunan tidak dapat hilang dengan sendirinya. Hal ini menyebabkan tumbuhan tidak bisa melakukan fotosintesis sehingga lambat laun akan mati. Dampak letusan gunung memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat kembali normal. Lama tidaknya waktu untuk kembali ke kondisi normal tergantung pada kekuatan ledakan dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Akan tetapi, setelah kembali ke kondisi normal, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang subur karena mengalami proses peremajaan tanah.
b. Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getaran yang ditimbulkan karena adanya gerakan endogen. Semakin besar kekuatan gempa, maka akan menimbulkan kerusakan yang semakin parah di muka bumi. Gempa bumi menyebabkan bangunan-bangunan retak atau hancur, struktur batuan rusak, aliran-aliran sungai bawah tanah terputus, jaringan pipa dan saluran bawah tanah rusak, dan sebagainya. Jika kekuatan gempa bumi melanda lautan, maka akan menimbulkan tsunami, yaitu arus gelombang pasang air laut yang menghempas daratan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Masih ingatkah kalian dengan peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam di penghujung tahun 2004 yang lalu? Contoh peristiwa gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia antara lain gempa bumi yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam dengan kekuatan 9,0 skala richter. Peristiwa tersebut merupakan gempa paling dasyat yang menelan korban diperkirakan lebih dari 100.000 jiwa. Gempa bumi juga pernah melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada bulan Mei 2006 dengan kekuatan 5,9 skala richter.
c. Banjir
Banjir merupakan salah satu bentuk fenomena alam yang unik. Dikatakan unik karena banjir dapat terjadi karena murni gejala alam dan dapat juga karena dampak dari ulah manusia sendiri. Banjir dikatakan sebagai gejala alam murni jika kondisi alam memang memengaruhi terjadinya banjir, misalnya hujan yang turun terus menerus, terjadi di daerah basin, dataran rendah, atau di lembah-lembah sungai. Selain itu, banjir dapat juga disebabkan karena ulah manusia, misalnya karena penggundulan hutan di kawasan resapan, timbunan sampah yang menyumbat aliran air, ataupun karena rusaknya dam atau pintu pengendali aliran air. Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir, antara lain, hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur karena tererosi aliran air, rusaknya tanaman, dan rusaknya berbagai bangunan hasil budidaya manusia. Bencana banjir merupakan salah satu bencana alam yang hampir setiap musim penghujan melanda di beberapa wilayah di Indonesia. Contoh daerah di Indonesia yang sering dilanda banjir adalah Jakarta. Selain itu beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada awal tahun 2008 juga dilanda banjir akibat meluapnya DAS Bengawan Solo.
d. Tanah anah Longsor
Karakteristik tanah longsor hampir sama dengan karakteristik banjir. Bencana alam ini dapat terjadi karena proses alam ataupun karena dampak kecerobohan manusia. Bencana alam ini dapat merusak struktur tanah, merusak lahan pertanian, pemukiman, sarana dan prasarana penduduk serta berbagai bangunan lainnya. Peristiwa tanah longsor pada umumnya melanda beberapa wilayah Indonesia yang memiliki topografi agak miring atau berlereng curam. Sebagai contoh, peristiwa tanah longsor pernah melanda daerah Karanganyar (Jawa Tengah) pada bulan Desember 2007
e. Badai/Angin Topan
Angin topan terjadi karena perbedaan tekanan udara yang sangat mencolok di suatu daerah sehingga menyebabkan angin bertiup lebih kencang. Di beberapa belahan dunia, bahkan sering terjadi pusaran angin. Bencana alam ini pada umumnya merusakkan berbagai tumbuhan, memorakporandakan berbagai bangunan, sarana infrastruktur dan dapat membahayakan penerbangan. Badai atau angin topan sering melanda beberapa daerah tropis di dunia termasuk Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia pernah dilanda gejala alam ini. Salah satu contoh adalah angin topan yang melanda beberapa daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
f. Kemarau Panjang
Bencana alam ini merupakan kebalikan dari bencana banjir. Bencana ini terjadi karena adanya penyimpangan iklim yang terjadi di suatu daerah sehingga musim kemarau terjadi lebih lama dari biasanya. Bencana ini menimbulkan berbagai kerugian, seperti mengeringnya sungai dan sumber-sumber air, munculnya titik-titik api penyebab kebakaran hutan, dan menggagalkan berbagai upaya pertanian yang diusahakan penduduk.

2.Kerusakan Lingkungan Hidup karena Aktivitas Manusia
Dalam memanfaatkan alam, manusia terkadang tidak memerhatikan dampak yang akan ditimbulkan. Beberapa bentuk kerusakan lingkungan yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia, antara lain, meliputi hal-hal berikut ini.
a. Pencemaran Lingkungan
Pencemaran disebut juga dengan polusi, terjadi karena masuknya bahan-bahan pencemar (polutan) yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Bahan-bahan pencemar tersebut pada umumnya merupakan efek samping dari aktivitas manusia dalam pembangunan. Berdasarkan jenisnya, pencemaran dapat dibagi menjadi empat, yaitu pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran suara. Pencemaran udara yang ditimbulkan oleh ulah manusia antara lain, disebabkan oleh asap sisa hasil pembakaran, khususnya bahan bakar fosil (minyak dan batu bara) yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, dan mesin-mesin pesawat terbang atau roket. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran udara, antara lain, berkurangnya kadar oksigen (O2) di udara, menipisnya lapisan ozon (O3), dan bila bersenyawa dengan air hujan akan menimbulkan hujan asam yang dapat merusak dan mencemari air, tanah, atau tumbuhan. Pencemaran tanah disebabkan karena sampah plastik ataupun sampah anorganik lain yang tidak dapat diuraikan di dalam tanah. Pencemaran tanah juga dapat disebabkan oleh penggunaan pupuk atau obat-obatan kimia yang digunakan secara berlebihan dalam pertanian, sehingga tanah kelebihan zat-zat tertentu yang justru dapat menjadi racun bagi tanaman. Dampak rusaknya ekosistem tanah adalah semakin berkurangnya tingkat kesuburan tanah sehingga lambat laun tanah tersebut akan menjadi tanah kritis yang tidak dapat diolah atau dimanfaatkan.
Pencemaran air terjadi karena masuknya zat-zat polutan yang tidak dapat diuraikan dalam air, seperti deterjen, pestisida, minyak, dan berbagai bahan kimia lainnya, selain itu, tersumbatnya aliran sungai oleh tumpukan sampah juga dapat menimbulkan polusi atau pencemaran. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran air adalah rusaknya ekosistem perairan, seperti sungai, danau atau waduk, tercemarnya air tanah, air permukaan, dan air laut. Pencemaran suara adalah tingkat kebisingan yang sangat mengganggu kehidupan manusia, yaitu suara yang memiliki kekuatan > 80 desibel. Pencemaran suara dapat ditimbulkan dari suara kendaraan bermotor, mesin kereta api, mesin jet pesawat, mesin-mesin pabrik, dan instrumen musik. Dampak pencemaran suara menimbulkan efek psikologis dan kesehatan bagi manusia, antara lain, meningkatkan detak jantung, penurunan pendengaran karena kebisingan (noise induced hearing damaged), susah tidur, meningkatkan tekanan darah, dan dapat menimbulkan stres.
b. Degradasi Lahan
Degradasi lahan adalah proses berkurangnya daya dukung lahan terhadap kehidupan. Degradasi lahan merupakan bentuk kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan lingkungan oleh manusia yang tidak memerhatikan keseimbangan lingkungan. Bentuk degradasi lahan, misalnya lahan kritis, kerusakan ekosistem laut, dan kerusakan hutan.
1) Lahan kritis dapat terjadi karena praktik ladang berpindah ataupun karena eksploitasi penambangan yang besar-besaran.
2) Rusaknya ekosistem laut terjadi karena bentuk eksploitasi hasil-hasil laut secara besar-besaran, misalnya menangkap ikan dengan menggunakan jala pukat, penggunaan bom, atau menggunakan racun untuk menangkap ikan atau terumbu karang. Rusaknya terumbu karang berarti rusaknya habitat ikan, sehingga kekayaan ikan dan hewan laut lain di suatu daerah dapat berkurang.
3) Kerusakan hutan pada umumnya terjadi karena ulah manusia, antara lain, karena penebangan pohon secara besar-besaran, kebakaran hutan, dan praktik peladangan berpindah. Kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan hutan, misalnya punahnya habitat hewan dan tumbuhan, keringnya mata air, serta dapat menimbulkan bahaya banjir dan tanah longsor.

Dapat di simpulkan bahwa penyebab kerusakan lingkungan yang Pertama, karena kejadian alam sebagai peristiwa yang harus terjadi sebagai sebuah proses dinamika alam itu sendiri. Kedua, sebagai akibat dari perbuatan manusia yang tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan. Kedua bentuk kejadian alam di atas mengakibatkan ketidakseimbangan kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora maupun fauna. Ketidakseimbangan tersebut dapat dikatakan sebagai bencana. Dampak-dampak kerusakan lingkungan hidup itu dapat berupa pencemaran air, pencemaran tanah, krisis keanekaragaman hayati (biological diversity), kerusakan hutan, krisis air bersih, pertambangan dan kerusakan lingkungan, pencemaran udara, banjir, longsor dan sebagainya. Salah satu isu sentral dunia belakangan ini terkait dengan ekologi adalah pemanasan global. Pemanasan global ini dikaitkan dengan globalisasi ekonomi dan krisis keuangan global. Semua terkait dengan perkara hidup manusia sehari-hari, terkait dengan ritual hidup manusia. Sekarang seolah-olah manusia menghadapi ketidakberdayaan.5

Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang disebut rumah kaca. Pemanasan global terjadi karena ulah manusia. Akibat yang manusia rasakan adalah gejolak perubahan iklim. Terjadi pancaroba. Bumi makin panas merupakan kenyataan semakin tidak nyamannya Bumi sebagai tempat tinggal makhluk hidup. Terjadilah peningkatan temperatur. Es kutub mulai mencair, mengakibatkan meningkatnya volume air laut dan anomali cuaca. Muncul kekhawatiran kepunahan spesies, bahkan ketakutan kiamat keburu datang. Diperkirakan saat ini 50-150 spesies Bumi punah setiap hari. Sekitar 50 persen dari sekitar 10 juta spesies yang ada saat ini akan punah dalam 100 tahun ke depan. Laju kepunahan itu perlu diredam karena bias berdampak pada kelangsungan hidup di Bumi. Salah satu caranya, menumbuhkan solidaritas lintas spesies yang saat ini masih sangat minim, sementara pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih berorientasi pada kesejahteraan manusia.6

Kerusakan alam berkait erat dengan kemiskinan. Ketika fokus perhatian dunia diberikan untuk mengatasi kerusakan lingkungan, di saat yang sama masih saja terjadi perusakan. Perubahan iklim sebagai salah satu konsekuensi kerusakan alam berdampak global. Dampaknya lebih terasa di negara-negara berkembang sehingga tantangan menyikapinya harus global, sekaligus mengingatkan tentang kepunahan-kepunahan yang terjadi, tidak hanya sebagai gerakan hukum, politik, dan ekonomi, tetapi juga perlu lewat asas keagamaan.

 Kemiskinan Dan Kerusakan Lingkungan
Kemiskinan dan kerusakan lingkungan berkorelasi positif. Bahkan keduanya memiliki hubungan kausalitas derajat polinomial. Pada derajat pertama, kemiskinan terjadi karena kerusakan lingkungan atau sebaliknya lingkungan rusak karena kemiskinan. Pada tingkatan polinomial berikutnya, kemiskinan terjadi akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan karena kemiskinan periode sebelumnya. Hal sebaliknya berpeluang terjadi, lingkungan rusak karena kemiskinan yang dipicu oleh kerusakan lingkungan pada periode sebelumnya.
Hubungan sebab akibat itu bisa terus berlanjut pada derajat polinomial yang lebih tinggi, membentuk lingkaran setan atau siklus yang tidak berujung. Dalam kondisi seperti itu, kemiskinan semakin parah dan lingkungan semakin rusak. Semakin lama kondisi itu berlangsung, semakin kronis keadaanya. Bila sudah demikian, status kemiskinan berubah secara tidak linier. Dari miskin, ke lebih miskin, dan akhirnya miskin sekali. Tren yang sama juga terjadi juga pada kerusakan lingkungan.
Jeffrey Sachs dalam kesimpulan bukunya The End of Poverty menekankan pentingnya hubungan kemiskinan dan kerusakan lingkungan sebagai peubah penentu kesejahteraan dan kemakmuran. Menurutnya, sementara investasi pada kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur mungkin dapat mengatasi perangkap kemiskinan yang sudah ekstrem kondisinya, degradasi lingkungan pada skala lokal, regional, dan global dapat meniadakan manfaat investasi tersebut. Dengan kata lain, ada banyak variabel penting yang ikut menentukan kesejahteraan dan kemiskinan, namun lingkungan alam bisa dipandang sebagai yang terpenting.
Karena pentingnya hubungan kemiskinan dan kerusakan lingkungan, dalam Millenium Development Goals (MDGs) kedua variabel tersebut dijadikan target bersama negara-negara dunia untuk menyelesaikannya hingga periode 2015. Sementara di Indonesia, makin hari makin terasa pentingnya kedua variabel itu. Hampir di seluruh daerah, kemiskinan semakin terekspose.
Di saat dan tempat yang sama, kerusakan lingkungan makin terjadi, ditandai dengan aktivitas dan kehidupan manusia yang sudah melebihi kapasitas alam. Manusia yang miskin hidup di atas atau melampaui daya dukung (carrying capacity) sumber daya alam. Maka terjadilah hubungan lingkaran setan kemiskinan dan kerusakan alam yang sulit dicari ujung pangkalnya.
Sejak ditetapkan pada September 2000 dan diikuti dengan penatapan Milleneium Project pada 2002 di Johannesburg, Afrika Selatan oleh Kofi Annan, banyak negara dunia memberikan perhatikan serius pada pencapaian target-target yang ditetapkan. Dalam kaitan dengan pengentasan kemiskinan, tiga target yang disepakati untuk dicapai yaitu mengurangi separuh jumlah penduduk yang pendapatannya di bawah $1 sehari, mengurangi separuh jumlah penduduk yang kelaparan, serta meningkatkan jumlah ketersediaan pangan bagi orang miskin.
Target yang berkaitan keberlanjutan lingkungan adalah memadukan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam kebijakan dan program pembangunan setiap negara, meningkatkan jumlah orang yang dapat akses air bersih, serta meningkatkan secara siginifikan kehidupan 100 juta orang yang hidup di daerah kumuh. Target-target itu membuka debat publik secara demokrasi tentang kinerja pemerintah. Partai politik juga menggunakan target-target ini untuk secara terbuka mengevaluasi kebijakan dan program pemerintah.
Presiden Brasilia, Luis Inacio da Silva, misalnya secara ekplisit mengumumkan target-target pada MDGs sebagai platform politiknya dalam pemilu. Tanpa disadari dan tak secara eksplisit diajukan, di Indonesia pun banyak calon gubernur, bupati, dan wali kota menggunakan target-target MDGs sebagai platform politik mereka dalam pilkada.
Langkah-langkah besar dan signifikan sudah dicapai Tiongkok dan Vietnam dalam mengurangi kemiskinan. Dalam kurun 1990-2002, penduduk miskin 32 persen menjadi 13 persen di Tiongkok, serta dari 51 persen menjadi 14 persen di Vietnam. Namun khususnya di Tiongkok, lingkungan alam sebagai habitat dan sumber daya ekonomi mengalami kerusakan cukup serius. Dengan kata lain, pencapaian MDGs tidak dicapai secara holistik, malahan sebaliknya tujuan atau tagetnya saling dipertentangkan.
Situasi yang sama dengan Tiongkok umumnya berlaku juga di negara-negara kawasan Amerika Latin dan Karibia. Pengentasan kemiskinan diprioritaskan sementara target lain kurang diperhatikan. Tetapi kawasan itu juga memperhatikan tiga target penting lainnya, yaitu pengurangan angka kematian bayi, penyediaan air bersih, serta peniadaan diskriminasi gender pada pasar tenaga kerja. Logikanya, kemiskinan bisa dientaskan melalui perbaikan ketiga target ini.
Di Asia Selatan, 40 persen penduduk hidup dengan kurang dari $1 sehari. Namun kemiskinan sudah jauh berkurang di kawasan ini, kecuali di Pakistan. Secara khusus, Bangladesh berhasil meningkatkan pendidikan anak dan pemuda, mengurangi malnutrisi anak, serta mengurangi insidensi HIV/AIDS.
Kawasan dunia yang termiskin, Sub-Sahara Afrika, diprediksi tidak akan berhasil mencapai target MDGs, khususnya pengurangan jumlah orang miskin. Sebaliknya, jumlah orang miskin bertambah dari 314 juta pada 2001 menjadi 366 juta pada 2015. Hanya Uganda, Ghana, dan Kamerun yang baik kinerjanya dalam hal pengentasan kemiskinan.
Tuberkolosis, malaria, dan HIV/ AIDS masih marak dan menurunkan harapan hidup serta tingkat kematian bayi. Untuk kawasan itu, keterisolasian, kerusakan sumber daya alam serta ketiadaan infrastruktur teknologi adalah alasan utama kemiskinan dan keterbelakangan.
"Triple Tracks Plus"
Di Indonesia, strategi pembangunan berbasis Triple Tracks (pro poor, pro job, dan pro growth) bisa dipandang sebagai implementasi MDGs, sudah populer, dan diadopsi oleh instansi pemerintah secara nasional. Namun statistik kemiskinan bisa menjadi dasar evaluasi sejauh mana kinerja strategi triple tracks.
Tidak untuk diperdebatkan, hanya sebagai indikator, pada 2002 jumlah penduduk miskin 36,4 juta (18,1 persen). Pada September 2006, dengan standar $1,55 sehari, jumlahnya menjadi 39,40 juta. Di saat yang sama, dilaporkan 25 persen anak, usia hingga 5 tahun, menderita gizi buruk. Juga, kematian ibu 307 per 100.000 kelahiran, atau tiga kali kematian di Vietnam dan enam kali Malaysia atau Tiongkok. Per tumah tangga, pada Januari 2006 terdapat 17,8 juta, atau 33,4 persen, rumah tangga miskin (RTM). Menurut pidato kenegaraan terakhir, ada 192 juta, atau 36,1 persen RTM. Sementara target RPJM 12,5 persen pada 2006.
Indikator statistik di atas mungkin sudah berubah dalam setahun terakhir setelah adanya bencana alam: banjir, kekeringan, tanah longsor, semburan gas Lapindo, tsunami, angin pitung beliung, taifun, dan gelombang laut yang menyerang negeri ini, yang membuat masyarakat kehilangan peluang usaha dan peluang bekerja.
Bagi petani, nelayan, dan buruh, sehari tidak bekerja, besar dampaknya bagi pendapatan mereka. Bencana alam seperti yang terus terjadi belakangan ini membuat mereka miskin atau miskin sekali setelah tidak bekerja atau kehilangan aset-aset produktifnya. Dalam kondisi miskin, apalagi sangat miskin, berbagai macam penyakit akan mudah menyerang yang pada akhirnya menurunkan usia harapan hidup.
Memang kejadian alam di luar kontrol manusia. Tetapi bencana alam mungkin lebih terjadi karena alam telanjur rusak oleh buatan tangan manusia yang miskin atau yang terlalu serakah. Manusia yang miskin dan serakah merusak alam, dan alam yang rusak memiskinkan manusia.
Celakanya mereka yang merusak alam semakin kaya sementara penduduk lainnya, sebaik dampaknya, menjadi miskin. Tetapi kesalahan itu tidak selamanya ada pada masyarakat dan penduduk. Sangat mungkin, program pemeritah di pusat dan daerah memang tidak menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai aspek penting. Alam dipaksa memberikan pertumbuhan ekonomi dan itu berada di atas daya dukungnya.
Maka bercermin dari banyak negara lain di dunia, yang berhasil dan tidak berhasil mengelola dan memanfaatkan alam bagi pembangunan ekonominya, serta sebagai upaya mengurangi jumlah orang miskin yang terakumulasi akibat bencana alam, sudah saatnya Indonesia mengikuti strategi Triple Track Plus. "Plus" yang dimaksud, sesuai projek MDGs, adalah pro-environment. Dengan be-gitu sejak saat ini, Indonesia mengikuti bukan lagi Triple Tracks tetapi Fourfold Tracks Strateg

5. PEMBAHASAN
 Peran Kearifan Lokal Dalam Kelestarian Lingkungan
Secara yuridis formal kearifan lokal telah diperkenalkan dalam pasal 1 ayat (30) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 yang menyatakan bahwa kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan secara lestari. Sementara itu, Prabandani (2011) menyatakan pengertian kearifan lokal ialah nilai-nilai, norma, hukum-hukum dan pengetahuan yang dibentuk oleh ajaran agama, kepercayaan-kepercayaan, tata nilai tradisional dan pengalaman-pengalaman yang diwariskan oleh leluhur yang akhirnya membentuk sistem pengetahuan lokal yang digunakan untuk memecahkan permasalahan-pemasalahan sehari-hari oleh masyarakat. Unsur-unsur yang terdapat dalam kearifan lokal antara lain ialah nilai, norma, hukum dan pengetahuan, sistem pengetahuan lokal dan pemecahan masalah sehari-hari. Kearifan lokal memiliki sifat makrososial, metodologis dapat berasal dari adat-istiadat.
Dalam hubungannya dengan lingkungan, Purba (2006) menyatakan bahwa kearifan lingkungan (ecological wisdom) merupakan pengetahuan yang diperoleh dari abstraksi pengalaman adaptasi aktif terhadap lingkungannya yang khas. Pengetahuan tersebut diwujudkan dalam bentuk ide, aktivitas dan peralatan. Kearifan lingkungan yang diwujudkan ke dalam tiga bentuk tersebut dipahami, dikembangkan, dipedomani dan diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas pendukungnya. Sikap dan perilaku menyimpang dari kearifan lingkungan, dianggap penyimpangan (deviant), tidak arif, merusak, mencemari, mengganggu, dan lain-lain.
Sementara itu, Prof. Suwardi, MS (dalam Purba, 2006) menyatakan kearifan lingkungan sebagai aktivitas dan proses berfikir, bertindak dan bersikap secara arif dan bijaksana dalam mengamati, memanfaatkan dan mengolah alam sebagai suatu lingkungan hidup dan kehidupan manusia secara timbal balik. Kesuksesan kearifan lingkungan itu biasanya ditandai dengan produktivitas, sustainabilitas dan equitablitas (Atapuah dalam Purba, 2006).
Kearifan lokal masyarakat desa tertentu dalam pelestarian lingkungan hutan tersusun atas nilai-nilai, norma, hukum-hukum dan pengetahuan yang dibentuk oleh ajaran agama, kepercayaan-kepercayaan, tata nilai tradisional dan pengalaman-pengalaman yang diwariskan oleh leluhur yang akhirnya membentuk sistem pengetahuan lokal yang digunakan oleh masyarakat untuk memanfaatkan, mengelola, serta menjaga hutan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya agar tetap lestari. Hal ini dikarenakan masyarakat sadar bahwa keberadaannya sangat bergantung pada hutan di sekitar tempat tinggalnya.
Seperti halnya masyarakat Bali pada umumnya menganut suatu konsep hidup yang disebut Tri Hita Karana. Tri Hita Karana ialah suatu konsep yang ada di dalam kebudayaan masyarakat Bali yang berintikan pada keharmonisan hubungan antara manusia-Tuhan, manusia-manusia, manusia-alam merupakan tiga penyebab kesejahteraan jasmani dan rohani (Dhana, 2006). Adanya konsep hidup ini dalam kehidupan masyarakat desa adat Tenganan Pegringsingan telah menuntun mereka untuk bersikap dan berperilaku ramah serta senantiasa menjaga keselarasan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, termasuk juga dengan lingkungan hutannya.
ajaran agama yang dianut oleh seluruh warga desa adat Tenganan Pegringsingan juga mengajarkan bahwa manusia harus selalu senantiasa menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan alamnya. Hal ini dikarenakan antara manusia dengan alam dipercaya mamiliki hubungan secara timbal-balik.

Suryadarma (tanpa tahun) menyatakan atas dasar pengertian dan realitas tersebut, kehadiran manusia sangat mutlak tergantung pada keberadaan tumbuhan dan masyarakat tradisional mengakui eksistensi tumbuhan sebagai makhluk yang memiliki suatu kekuatan perlindungan terhadap manusia. Pola sistem norma yang dianut sebagai alasan utama mengapa hutan dipandang sebagai kawasan dikeramatkan. Pengkeramatan bukan ditafsirkan sebagai penyembahan, tetapi satu bentuk rasa hormat terhadap tumbuhan sebagai bagian knot dalam notasi realitas kehidupan atau samodhaya. Samodhaya tidak hanya menyangkut realitas kehidupan tetapi lebih luas dari itu adalah sistem penunjang kehidupan. Kajian deep ecology mengakui realitas semua makhluk dan sistem penyangga kehidupan memiliki nilai bagi dirinya sendiri dan bukan hanya bernilai atas dasar kepentingan manusia.
Adanya keyakinan-keyakinan yang telah terlembaga dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat tersebut sangat berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan hutan di desa. Keyakinan-keyakinan tersebut telah mampu menata tindakan-tindakan dan tingkah laku berinteraksi antara manusia dan lingkungan alam, termasuk juga menata tindakan-tindakan dan tingkah laku masyarakat desa dalam memanfaatkan dan mengelola hutan serta sumber daya yang terkandung di dalamnya. Terkait dengan kepercayaan atau mitos yang terdapat pada suatu masyarakat, Susilo (2009: 35) menyatakan bahwa seperti banyak diungkapkan penganut struktural, mitos memiliki banyak fungsi demi menciptakan tertib sosial, baik fungsi psikologis, maupun fungsi sosial. Dari fungsi psikologis, mitos mampu mengurangi kecemasan-kecemasan, sedangkan fungsi sosial ia mampu menumbuhkan solidaritas kolektif, identitas kolektif, keharmonisan komunal, dan stabilitas kultural. Mitos tersebut berfungsi dan berpengaruh dalam memberikan arah dan pedoman bertingkah laku terhadap lingkungan hutan dan sumber daya yang terkandung di dalamnya.





Disi laian indonesia juga Merespons berbagai persoalan lingkungan hidup di atas.di Indonesia telah ditetapkan berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain yaitu: Undang Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997 Tentang: Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang: Sumber Daya Air, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.8

Dalam berbagai undang-undang di atas dinyatakan bahwa lingkungan hidup Indonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan
kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup.

Selanjutnya dijelaskan pula bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Lebih jauh dinyatakan bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa.

 Spiritualitas (Agama) dan Back to Nature
Kesadaran internasional akan bahaya bencana lingkungan sudah merebak sejak tahun 1970-an. Kesadaran bahaya lingkungan demikian melahirkan sikap dan perilaku masyarakat dunia untuk bersama-sama menyelamatkan planet dunia yang hanya satu bumi. Upaya penyelamatan lingkungan global perlu memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam program pelestarian lingkungan. Dalam kepentingan ini masyarakat lingkungan menggali seluruh potensi masyarakat untuk mensukseskan program penyelamatan lingkungan global. Penggalian potensi ekologis masyarakat dunia antara lain berupa penggalian budaya asli masyarakat yang pro ekologis. Demikian pula, masyarakat lingkungan tidak segan-segan menggali nilai-nilai spiritual religius yang dimilki oleh masyarakat beragama.

Dalam kaitan ini agama dengan sisi spiritualitasnya diyakini sebagai sumber kekuatan yang besar dan kontributif untuk mengembalikan keutuhan dan mengerem laju kepunahan. Selain itu, spiritualitas agama dianggap mampu mengajak berbagai pihak mempersatukan, menjadi inspirasi, dan memberikan penguatan eksistansial.

Dalam masyarakat religius, suara agama tetap meiliki wibawa dan masih berkemampuan untuk mempengaruhi pandangan hidup umatnya. Masing-masing denominasi memiliki warisan tersendiri yang dapat didayagunakan. Untuk menghadapi soal konsumerisme dewasa ini, kiranya
Umat Islam sejak dahulu diilhami oleh hidup sederhana Nabi Muhammad SAW ( “ kemiskinan adalah kebanggaanku”) dan umat Islam awal sebagaimana digambarkan dalam hadis; dan oleh cara hidup sederhana gerakan kaum Sufi yang kendati sering ditentang Ortodoksi terus hadir dan memberi inspirasi kepada kehidupan praktis, khususnya di tengah umat Islam Sunni. Meditasi kaum Sufi tentang Alquran dan perjalanan mistik mereka dalam kedekatan dengan Allah didukung oleh hidup mereka yang ugahari, kemiskinan yang sukarela, dan praktek askese.
Contoh agama lain, seperti Buddhisme memilki kemampuan khusus sebab ajarannya yang sentral menyangkut hal mengatasi keinginan ketamakan dan kerakusan. Inilah salah satu hal utama yang ingin dicontohkan dalam hidup para pertapa, biksu, dan biksuni. Perhatian sentral dalam jalan hidup seorang Buddhis menyangkut hal melepaskan diri dari konsep palsu tentang egonya, suatu konsep yang kini begitu ditanamkan oleh dunia konsumerisme dengan warta iklannya.

Semua aliran spiritual memiliki warisan yang mengilhami umatnya untuk menahan diri dari hidup mewah dan pemborosan; dan mengajak untuk hidup berkecukupan saja. Kelbihan dan kekurangan sama-sama salah ( Confucius XI.15). Orang yang tahu bahwa ia berkecukupan adalah kaya ( Tao Te Ching). Orang-orang yang sungguh digerakkan oleh warisan spiritualnya, tidak lagi mencari-cari makanan atau barang yang mewah dan eksotis yang perlu diterbangkan dari ujung bumi, tidak lagi terus membongkar-bangun dan menambah kediamannya yang sudah cukup , tidak berganti-ganti sarana transport dan komunikasinya yang masih baik dengan selalu
mencari produk yang lebih akhir dan canggih lagi atau memboroskan energi serta mencemarkan lingkungan dengan perjalanan yang tidak perlu atau cara yang tak ramah lingkungan.

Kalau makin banyak orang diilhami oleh agamanya untuk secara bebas memilih hidup sederhana dan berkecukupan, langkah penghematan yang lebih structural menyangkut industri, tarnsportasi, penyejuk udara di gedung-gedung, lama kelamaan juga akan disambut baik oleh masyarakat.

Gerakan di atas diharapkan menjadi gerakan pencerahan dan edukasi bersama, dilakukan dengan cara penyadaran kepada sebanyak mungkin orang melalui pendidikan publik, pendidikan lingkungan hidup di dalam kurikulum sekolah lewat muatan local dan pendidikan agama, juga lewat acara-acara keagamaan. Dibangun kemauan gaya hidup sederhana yang berorientasi pada penghargaan terhadap alam (back to nature). Tujuan akhirnya, membangun bersama-sama sebuah dunia sebagai rumah idaman.


6. Penutup
Sebagai catan penutup dan akhir dari keseluruhan pembahasan tulisan ini, perlu dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
1. Peran budaya dan kearifan likal sangat tinggi dalam pelestarian lingkungan karena masyarakat menganggap bahwa hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan sangatlah besar. Dengan memahami seperti itu, kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan sangatlah tinggi. Meskipun nanti terdapat kerusakan pada lingkungan masyarakat yang mempunyai budaya tertentu akan segera memperbaikinya.
2. Mitos dalam masyarakat dapat menata pola perilaku masyarakat dan membantu norma-norma yang berjalan dalam melindungi kelestarian lingkungan
3. Keserasian lingkungan hidup dalam agama-agama memiliki empat dimensi yang saling terkait antara satu sama lain. Empat dimensi yang dimaksud adalah dimensi teologik, antropologik, kosmologik dan eskatologik.
4. Diskursus dan gerakan spiritualitas (religius) diharapkan menjadi gerakan pencerahan dan edukasi bersama, dilakukan dengan cara penyadaran kepada sebanyak mungkin orang melalui pendidikan publik, pendidikan lingkungan hidup di dalam kurikulum sekolah lewat muatan lokal dan pendidikan agama, juga lewat acara-acara keagamaan. Dibangun kemauan gaya hidup sederhana yang berorientasi pada penghargaan terhadap alam (back to nature). Tujuan akhirnya, membangun bersamasama sebuah dunia sebagai rumah idaman.
5. Agama dengan dimensi spiritualitasnya mempunyai lima resep dasar untuk menyelamatkan bumi, yaitu Reference atau keyakinan yang dapat diperoleh dari teks (kitab-kitab suci) dan kepercayaan yang mereka miliki masing-masing; Respect, penghargaan kepada semua makhluk hidup yang diajarkan oleh agama sebagai makhluk Tuhan; Restrain, kemampuan untuk mengelola dan mengontrol suatu supaya penggunaanya tidak mubazir; Redistribution, kemampuan untuk menyebarkan kekayaan; kegembiraan dan kebersamaan melalui langkah dermawan; misalnya zakat, infak dalam Islam; Responsibility, sikap bertanggung jawab dalam merawat kondisi bumi dan lingkungan. Dalam hal ini, kepedulian terhadap bumi amat tergantung pada bagaimana aspek-aspek ajaran agama disajikan dan dieksplorasi dengan bahasa serta idiom-idiom modern dan ekologis



DAFTAR PUSTAKA
Affeltranger, B. 2007. Hidup akrab dengan bencana: Sebuah tinjauan global tentang inisiatif-inisiatif pengurangan bencana. Jakarta: MPBI.
Cubbon, H. A. 2005. Talcott Parsons. Teori-teori sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
http://assidiqichywt.blogspot.com/2010/10/kwmiskinan-menyebabkan-kerusakan.html
http://fajarbaguss.blogspot.com/2012/01/kearifan-lokal-masyarakat-desa-adat.html
Nurjaya, I N. 2009. Menuju pengakuan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam: Perspektif antropologi hukum. Kertha Wicaksana, 15(2): 102-109. Tersedia pada isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/15209102109. pdf. Diakses pada 23 Desember 2011.
Pambudy, N. M. 2011. Kepercayaan sebagai model sosial cegah bencana. Bencana mengancam Indonesia. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Loekman Soetrisno, Menuju Masyarakat Partisipatif ( Yogykarta: Penerbit Kanisius, 1995),
hlm.21
Mujiyono Abdillah, Fikih Lingkungan Panduan Spiritual Hidup Berwawasan Lingkungan
(Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), hlm. 3-4 dan Mujiyono Abdillah, Fikih Lingkungan Prototype
Studi Islam Kontemporer Bidang Lingkungan, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Metodologi Studi Islam Disampaikan di Hadapan Sidang Senat Terbuka IAIN Walisongo, Kamis, 16 Juni 2005 ( Semarang: IAIN Walisongo, 2005), hlm.
Mujiyono Abdillah, Fikih Lingkungan Prototype...hlm.2
Michael Faure and Nicole Niessen (editor), Environmental Law in Development Lessons from
the Indonesian Experience (Cheltenham, UK • Northampton, MA, USA: Edward Elgar, 2006).